Monday, 30 November 2015

Hanya sebuah refleksi pribadi

Hari ini saya membuka kembali kembar demi lembar catatan perasaan hati dari masa lalu. Masa-masa di mana saya merasa Tuhan ‘melupakan’ saya dalam urusan asmara. Masa ketika saya merasa urusan asmara saya tidak menarik di mata Tuhan. Lalu saya berusaha mencari-cari dimana letak kesalahan saya dan berusaha memperbaikinya. Lalu yang saya lakukan adalah menulis, menulis dan menulis. Hampir setiap warna tulisan saya adalah hasrat yang kuat untuk percaya dan meyakinkan diri sendiri bahwa Tuhan tidak sedang melupakan saya, Tuhan hanya sedang sibuk mempersiapkan saya dan seseorang yang akan Ia bawa di hadapan saya nantinya. Tuhan sedang sibuk membenahi dan memoles bagian-bagian yang dianggap tidak perlu ada pada diri saya, demikian juga dengan seseorang itu. Kadang saya hampir putus asa, kadang saya tergoda untuk menyerah, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa menulis memberi energi yang lebih besar pada saya untuk bertahan dan memiliki harapan. 
Bagi orang lain, hal ini mungkin hal yang biasa tapi tidak bagi saya, saya sering tergoda untuk bertanya-tanya sedang apa Tuhan saat ini ketika saya melihat teman-teman saya satu per satu mulai menemukan tambatan hatinya. Sebuah pertanyaan besar yang bersemayam sempurna di hati saya yang tidak diketahui oleh banyak orang tapi yang paling sering saya ungkapkan ke Tuhan adalah ‘Tuhan, apakah saya akan menikah??’ dan beberapa pertanyaan lanjutan: ‘Kalau ia, bersama siapa? Kapan? Dimana? Bagaimana?’ Ada rentetan perjalanan panjang untuk tiba pada satu per satu jawaban-jawaban pertanyaanku. Tuhan memang tidak tidur. Itu kenyataannya. Ia sedang bekerja di dalam cara-cara yang tidak terselami akal kita. Jika kita memberontak dan membatah maka perlu ada perubahan rencana dan waktu dariNya atas kisah-kisah asmara yang telah Ia rancangkan. Jika kita taat dan patuh, rencanaNya akan berjalan mulus di dalam kita. 
Ini hanya sebuah perenungan mendalam tentang perjalanan hidup penuh kejutan dan petualngan luar biasa bersama Tuhan. Siapa menyangka bahwa tempat yang potensial menurut kita untuk menemukan seseorang untuk menjadi future-partner-inlife bukanlah tempat potensial menurut Tuhan, dan tempat di mana kita merasa disana tak ada harapan justru merupakan tempat paling potensial menurut Tuhan, tempat di mana seorang future-partner-inlife dipersiapkan, ditempa, diproses oleh Tuhan. Pertanyaan utama saya pada Tuhan hampir terjawab. Goresan-goresan saya mengingatkan saya pada doa saya selama bertahun-tahun: “Tuhan, tolong pertemukan saya dengan seseorang hanya apabila kami berdua telah siap untuk berkomitmen di hadapan Tuhan.” Sebuah doa yang kurang saya pahami kedalaman maknanya. Lalu kini ketika doa ini ada dalam sebuah perjalanan pengabulan saya merasa saya belum terlalu siap. Apakah doa ini terkabul terlalu dini? Mungkin tidak. Tuhan tak pernah terlalu cepat, tak pernah pula terlambat. Lalu dimana letak persoalannya? Kami sudah dipertemukan. Apakah saya (terutama) siap berkomitmen? Entahlah. 
Pernikahan bukan hanya sekedar sebuah intitusi dan tradisi. Itu sebuah perjalanan iman berdua. Menikah berarti melanjutkan perjalanan hidup bersama seseorang yang lain dengan berbagai kebiasaan baru, mimpi baru, harapan baru yang disepakati bersama. Menikah berarti mandiri. Menikah juga berarti meninggalkan ‘aku’ menuju ‘kita’. Akan ada banyak hal yang berubah, yang harus dibangun dan diperjuangkan. Menikah berarti membangun sebuah keluarga. Keberlangsungan sebuah keluarga ada di tangan dua orang yang berkomitmen untuk hidup bersama. Sebuah proses yang tidak pernah menjadi lebih mudah untuk dijalani meskipun berdua. 
Saya hanya benar-benar disentak dan disadarkan kembali oleh doa saya selama ini. Tapi saya percaya Tuhan mempersiapkan semuanya. Saya telah belajar percaya. Saya masih terus melakukannya. Mengapa? Karena Tuhan tahu yang terbaik. Ia tidak pernah ingkar janji. Ia setia. Hanya pertanyaannya sekarang: apakah kamu percaya padaNya? 



5 comments:

  1. Makasi ris utk refleksinya..pertanyaan2 itupun pun sering aku lontarkan juga ke Tuhan..k' yakin waktu Tuhan selalu tepat..trims sdh diingatkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 kak
      Tulisan2 memberikan kita energi yg besar n juga harapan untuk percaya
      Tuhan selalu tepat waktu :-)

      Delete
  2. Saya mempertanyakan hal yang sama dan skrg saya penasaran, bagaimana ekspresi Tuhan saat melihat dan mendengar doa2 dr anak2 perempuannya Tuhan ini. Mungkin Tuhan tertawa kecil, menggelengkan kepala dan mengusap lembut rambut kita sambil mendekap kita agar hati kita menjadi tenang

    ReplyDelete
  3. Saya mempertanyakan hal yang sama dan skrg saya penasaran, bagaimana ekspresi Tuhan saat melihat dan mendengar doa2 dr anak2 perempuannya Tuhan ini. Mungkin Tuhan tertawa kecil, menggelengkan kepala dan mengusap lembut rambut kita sambil mendekap kita agar hati kita menjadi tenang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sambil berkata: nak, nak, sabarlah, waktumu akan tiba, dia dalam perjalanan menuju kamu :-)

      Percayalah adik, rasanya waktu sampe di 'perjalanan penggenapan' janji itu lebih dari manis dan indah. Dia bekerja pada jalan yg tdk pernah kita pikirkan. Nantinya akan muncul kata2: ahh ya.. Siapa sangka?? :-)

      Delete

we can't explain why the people we love stay in our hearts forever. they just do (r. m. drake)

Sudah cukup lama Disibukkan oleh berbagai kegiatan dan tuntutan Laporan, jurnal. buku-buku bacaan, dan tugas akhir semuanya tak mampu ...