Monday, 30 November 2015

Hanya sebuah refleksi pribadi

Hari ini saya membuka kembali kembar demi lembar catatan perasaan hati dari masa lalu. Masa-masa di mana saya merasa Tuhan ‘melupakan’ saya dalam urusan asmara. Masa ketika saya merasa urusan asmara saya tidak menarik di mata Tuhan. Lalu saya berusaha mencari-cari dimana letak kesalahan saya dan berusaha memperbaikinya. Lalu yang saya lakukan adalah menulis, menulis dan menulis. Hampir setiap warna tulisan saya adalah hasrat yang kuat untuk percaya dan meyakinkan diri sendiri bahwa Tuhan tidak sedang melupakan saya, Tuhan hanya sedang sibuk mempersiapkan saya dan seseorang yang akan Ia bawa di hadapan saya nantinya. Tuhan sedang sibuk membenahi dan memoles bagian-bagian yang dianggap tidak perlu ada pada diri saya, demikian juga dengan seseorang itu. Kadang saya hampir putus asa, kadang saya tergoda untuk menyerah, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa menulis memberi energi yang lebih besar pada saya untuk bertahan dan memiliki harapan. 
Bagi orang lain, hal ini mungkin hal yang biasa tapi tidak bagi saya, saya sering tergoda untuk bertanya-tanya sedang apa Tuhan saat ini ketika saya melihat teman-teman saya satu per satu mulai menemukan tambatan hatinya. Sebuah pertanyaan besar yang bersemayam sempurna di hati saya yang tidak diketahui oleh banyak orang tapi yang paling sering saya ungkapkan ke Tuhan adalah ‘Tuhan, apakah saya akan menikah??’ dan beberapa pertanyaan lanjutan: ‘Kalau ia, bersama siapa? Kapan? Dimana? Bagaimana?’ Ada rentetan perjalanan panjang untuk tiba pada satu per satu jawaban-jawaban pertanyaanku. Tuhan memang tidak tidur. Itu kenyataannya. Ia sedang bekerja di dalam cara-cara yang tidak terselami akal kita. Jika kita memberontak dan membatah maka perlu ada perubahan rencana dan waktu dariNya atas kisah-kisah asmara yang telah Ia rancangkan. Jika kita taat dan patuh, rencanaNya akan berjalan mulus di dalam kita. 
Ini hanya sebuah perenungan mendalam tentang perjalanan hidup penuh kejutan dan petualngan luar biasa bersama Tuhan. Siapa menyangka bahwa tempat yang potensial menurut kita untuk menemukan seseorang untuk menjadi future-partner-inlife bukanlah tempat potensial menurut Tuhan, dan tempat di mana kita merasa disana tak ada harapan justru merupakan tempat paling potensial menurut Tuhan, tempat di mana seorang future-partner-inlife dipersiapkan, ditempa, diproses oleh Tuhan. Pertanyaan utama saya pada Tuhan hampir terjawab. Goresan-goresan saya mengingatkan saya pada doa saya selama bertahun-tahun: “Tuhan, tolong pertemukan saya dengan seseorang hanya apabila kami berdua telah siap untuk berkomitmen di hadapan Tuhan.” Sebuah doa yang kurang saya pahami kedalaman maknanya. Lalu kini ketika doa ini ada dalam sebuah perjalanan pengabulan saya merasa saya belum terlalu siap. Apakah doa ini terkabul terlalu dini? Mungkin tidak. Tuhan tak pernah terlalu cepat, tak pernah pula terlambat. Lalu dimana letak persoalannya? Kami sudah dipertemukan. Apakah saya (terutama) siap berkomitmen? Entahlah. 
Pernikahan bukan hanya sekedar sebuah intitusi dan tradisi. Itu sebuah perjalanan iman berdua. Menikah berarti melanjutkan perjalanan hidup bersama seseorang yang lain dengan berbagai kebiasaan baru, mimpi baru, harapan baru yang disepakati bersama. Menikah berarti mandiri. Menikah juga berarti meninggalkan ‘aku’ menuju ‘kita’. Akan ada banyak hal yang berubah, yang harus dibangun dan diperjuangkan. Menikah berarti membangun sebuah keluarga. Keberlangsungan sebuah keluarga ada di tangan dua orang yang berkomitmen untuk hidup bersama. Sebuah proses yang tidak pernah menjadi lebih mudah untuk dijalani meskipun berdua. 
Saya hanya benar-benar disentak dan disadarkan kembali oleh doa saya selama ini. Tapi saya percaya Tuhan mempersiapkan semuanya. Saya telah belajar percaya. Saya masih terus melakukannya. Mengapa? Karena Tuhan tahu yang terbaik. Ia tidak pernah ingkar janji. Ia setia. Hanya pertanyaannya sekarang: apakah kamu percaya padaNya? 



Monday, 31 August 2015

Hampa

Entah apa yang sedang terjadi padaku belakangan ini
Bosan
Malas
Hampa
Terlalu lama berada pada zona nyaman
Tanpa tantangan
Melakukan rutinitas membosankan
Tak bergairah

Ada apa dengan diriku?
Benar benarkah ini sesuatu yang ingin kujalani seumur hidupku ke depan? Sebuah pekerjaan dengan rutinitas tanpa tantangan?

Menulis...
Lama tak melakukan hobi ini
Bukan karena tak punya waktu, aku justru kelebihan waktu
Tapi tak ada ide, tak ada hal menantang
Hidup ini terlalu berjalan mulus
Ahh sesungguhnya lebih keren berada pada zona tak nyaman
Tersentak tapi menantang dan seru

Pengalaman pengalaman ini, menjalani hidup sepertu ini setiap hari cukup memberi pelajaran penting bagi pengenalan karakter diri sendiri dan mengetahui apa yang paling diinginkan dan harus dikerjakan dalam hidup

Benar kata seorang teman di blognya:what makes us human?’  BEKERJA !
Bisa dilihat tulisannya disini https://amavolta.wordpress.com/2015/05/04/what-makes-us-human-suatu-refleksi-dalam-bekerja/

Kalau seseorang yang seharusnya bekerja atau tepatnya telah terbiasa menjalani kesibukan bekerja (yang banyak) tiba-tiba berada pada zona nyaman dan melakukan hal-hal yang biasa, ia mematikan seluruh potensi dirinya dan menjadi stress.
Dari pengalaman pribadi saya ini, saya belajar adalah lebih baik stress karena pekerjaan yang padat daripada stress karena tak tahu apa yang harus dikerjakan (tidak ada yang harus dikerjakan) dengan banyaknya waktu yang tersedia

Ahhh intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa saya merindukan zona tak nyaman, kesibukan, padatnya pekerjaan, saya merindukan potensi saya digalih dan disalurkan, saya rindu ditantang, ahhh saya merindukan Temanggung dan segala kesibukan pekerjaan dan pelayanannya...


Monday, 10 August 2015

Untukmu yang terkasih

Untukmu yang membuatku percaya 'jatuh cinta pada pandangan pertama' bukan hanya milik dongeng dan kisah cinta romantis ala drama korea
Untukmu yang dengan sabar dan rela membayar waktu untuk sebuah pengenalan diri
Untukmu yang bersedia berproses bersama, memberi diri mengenal dan dikenal, yang dengan lapang membiarkan kelemahanmu diketahui
Yang bersedia mengubah fokus hidupnya dari aku perlahan lahan ke arah 'kita'
Yang menunjukkan bahwa aku dapat meraih mimpi-mimpi besarku dengan dirimu di sisiku
Yang mendukungku, yang mencintaiku,
Terima kasih telah datang di kehidupanku,
Terima kasih telah bersedia menempuh perjalanan denganku sejauh ini
Terima kasih karena aku dapat mencintaimu
Dear you, love yu so much

Wednesday, 24 June 2015

Seberapa yakin

Menulis itu ternyata tergantung mood dan fasilitas
Biasanya memang kalo sedang galau aku bisa rajin posting tiap hari
Apalagi kalo sinyal inetnya lancar jaya
Kali ini nulisnya timbul tenggelam, karena mood dan jaringan inet
Tapi kali ini aku rindu menulis
Menulis sambil menunggu waktu dimulainya ibadah syukuran malam persiapan pindah adat seorang jemaat, yang untuk memimpinnya saja aku sudah menanti 1 jam dan kini waktu telah menunjukkan 21.07 wita
Harus sabar menunggu....

Sore tadi aku juga mimpin Pemahaman Alkitab dari Matius 15:21-28
Itu adalah bacaan yang biasa yang sering kubaca dan pokok teologisnya ya itu-itu aja
Tapi sore tadi ada yang berbeda, seperti membaca kisah itu untuk pertama kalinya
Cara Yesus 'mengabaikan' permintaan si ibu (perempuan) yang sedang memperjungkan hidup anak perempuannya (perempuan menolong perempuan) dan tanggapan murid-murid yang ekslusif
Cara Yesus 'menguji' keteguhan hati si ibu
Cara Yesus mengukur 'kesungguhan hati' si ibu dan keyakinan si ibu bahwa meskipun ia bukan bagian dari bangsa Israel, ia juga berhak atas kasih karunia Allah meskipun itu bagian terkecil
Cara Yesus memuji iman si ibu dan cara ibu dan anaknya mengalami mujizat

Jangan-jangan, doa-harapan-pergumulan kita yang tidak segera dijawab Tuhan juga sedang mengikuti pola mujizat si ibu Kanaan ini
Tuhan bukannya tidak mau mengabulkan, Tuhan sengaja tarik ulur
Tuhan pengen lihat sampai mana kita meneguhkan hati, sampai mana kita percaya saat 'diabaikan', sampai mana kita yakin seyakin yakinnya bahwa kita pantas, layak, berhak menerima segala sesuatu yang terbaik dari Tuhan.
Si ibu Kanaan tahu bahwa ia juga berhak menerima kasih karunia Tuhan, karena itu ia memohon, "Tuhan, tolonglah aku"
Pertanyaannya sekarang adalah: 'seberapa yakin kau padaNya?'

Monday, 15 June 2015

Entahlah...

Entah sudah berapa kali aku melemparkan pandangan ke arah pintu
Entah sudah berapa kali juga ku memaksakan otakku untuk berkonsentrasi pada bacaan di depanku
Tapi hampir setiap detik perhatianku terpaku pada keramaian jalan di depan sana tanpa menemukan sosok yang dicari pandangan mataku sejak tadi
"Engkau sengaja membuatnya mencarimu!"
"Jangan sengaja pergi untuk dicari"
"Dasar perempuan, semarah apapun masih juga mengharapkan ditemui"
Entahlah...
Aku hanya tak mengerti mengapa hatiku pedih sekaligus merindukannya
Menangis memang melegakan dan memberi udara sejuk di dalam dada, tapi menangis tak pernah menyelesaikan masalah
Menangis memang mewakili perasaan yang tak dapat dirangkai dalam kata-kata tapi yang tak dapat dipahami dengan baik oleh kaum Adam
Aku marah padanya
Aku perlu waktu sendiri
Tapi aku juga mengharapkannya ada di sini
Aku merindukannya

Detik-detik berikutnya kutemukan pandangan mataku masih terpaku pada jalanan ramai
Tak ada sosok yang kunantikan itu
Tidak ada dia di sana
Mungkinkah ia memang tak pernah datang?
Mungkin aku yang terlalu berharap dicari
Atau mungkinkah ia malah sedang menunggu dicari?
Entahlah...

Tulang atau Hidup

Tak ada salahnya menghargai sesama bahkan itu bagian dari kewajiban
Yang salah adalah kalau kita lebih menghargai orang mati dibanding orang hidup
Ada tradisi dan budaya yang aneh di pulauku ini
Datanglah ke desa-desanya dan lihat di sana banyak bertebaran kuburan yang indah, terbuat dari batu ukir, dilapisi kemarik mengkilap lalu bandingkan dengan rumah tinggal dan toilet pemilik kubur indah itu, ironis
Tempat orang mati diperindah, rumah orang hidup dibuat seadanya
Orang mati dipesta-in, orang hidup ditelantarkan
Tradisi pesta kematian dan pemakaman rata-rata menelan anggaran di atas puluhan juta
Seluruh jerih lelah, keringat, air mata setahun habis sekejap dalam pesta kematian
Kapankah orang hidup menikmati bagiannya?

Hari ini saya pimpin ibadah syukur
Syukur untuk memakamkan tulang belulang dengan membantai 12 ekor babi dan 4 ekor kerbau
Puluhan juta lenyap seketika
Salah siapa?
Bukan karena kurang paham, tapi karena beda orientasi


Jadi, mana lebih penting: tulang si mati atau hidup seseorang?

Wednesday, 10 June 2015

Happy b'day, Bungsuu

Cerewet, hobi tidur, tertawa ngakak, malas makan, hobi jajan, kalo bercerita bisa dari pagi ketemu pagi.
Itulah dia si bungsu yang kurus, gambaran badan saya dulu waktu masih SMA
Sangat cerewet kalo sudah bercerita tapi juga gampang menangis kalo diganggu hahaha
Berubah jadi hobi makan kalo yang masak saya :p
Tapi meski dia cerewet dan paling malas kerja dan belajar, saya sangat mengasihi dia, adik bungsu tersayang
Selamat ulang tahun untukmu Mariati Yuni Wolla Wunga
Kami semua mendoakan yang terbaik untukmu
Semoga semua harapan, doa dan cita-cita Tuhan berkati dan jadikan kenyataan
Amin


Monday, 8 June 2015

Dare to Dream Big

“... decide today that you won’t give up on your dreams dan desires. Keep pressing forward, believing that you are anointed and empowered...”
Bermimpi. Sebuah aktivitas yang murah, gampang, tak merepotkan tapi membutuhkan segala upaya dan melelahkan untuk membuatnya jadi nyata. Semua hal-hal besar yang mengagumkan di sekitar kita berawal dari sebuah mimpi. Misalnya, kita dapat berpindah pulau dalam satu hari dengan menggunakan transportasi udara (pesawat). Hal ini tak akan pernah terjadi jika Wright bersaudara tidak pernah bermimpi untuk terbang dan mewujudkannya dengan ide membuat sesuatu yang dapat membuat manusia dapat terbang. Segala sesuatu berawal dari mimpi.
Memutuskan setiap hari bahwa kita tak pernah menyerah dengan mimpi-mimpi kita kadang-kadang merupakan hal yang sulit jika apa yang kita impikan, jalan menuju mimpi itu, dan keadaan yang kita alami justru membawa kita jauh dari mimpi-mimpi kita. Godaan untuk menyerah dan menerima keadaan sebagai sebuah takdir seringkali mematahkan semangat dan menghentikan langkah, namun ketika melihat teman-teman yang terbang tinggi melintasi gunung-gunung impian dan terbang tinggi menggapai mimpi mereka, aku seperti disentak dan ditarik paksa keluar dari kungkungan ketakutan dan kepasrahan hidup. You must do something! Begitu suara itu menghakimi. Kamu punya potensi, kamu punya kekuatan, kamu punya semua yang dibutuhkan orang lain untuk bermimpi. Apa yang menahanmu? 
Dare to dream big. Setahun yang lalu aku berjuang untuk berani bermimpi besar. Namun, disitulah aku sadar betapa ketakutan bisa menjadi sebuah kekuatan yang menarikmu begitu dalam ke ruang kosong penuh keraguan, kebimbangan dan keputusasaan. Sementara orang lain berjuang untuk bebas dari rasa takut dan berlari menuju mimpi mereka, aku berkutat memberi makan pada rasa takutku setiap hari. Hasilnya? Aku justru ditarik lebih dalam ke jurang keputusasaan dan mempersalahkan diri sendiri. Lalu aku sadar, bermimpi bukan lagi hal yang mudah. 
Dulu aku cuma berpimpi menjadi sarjana dan menjadi pendeta sampai aku menemukan bakatku dalam mengajar dan mencintai dunia akademik serta menggilai studi lanjut. Mimpi besarku dari ketiga hal ini adalah menikmati proses perkuliahan di negeri orang (yang dalam bahasa seorang dosen favoritku: melihat keagungan karya Tuhan di Eropa). Mimpi yang lebih banyak rasa takutnya daripada rasa percaya. Studi lanjut ke luar negeri, mungkinkah? Nyatanya, ada banyak ketakutan dalam hidupku yang berhasil kuatasi, tapi ketakutan yang satu ini, entah sampai kapan dapat kutaklukkan... 
Masih punya angan-angan, masih punya kerinduan, masih punya cinta untuk studi lanjut ke negeri orang (bahkan jika tak memungkinkan cukup di negeri sendiri). Mungkinkah jadi nyata? Kapan? Bagaimana? Siapa? Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab oleh kata dan kepastian, hanya tangisan piluh. Dulu, ketika aku belajar menentukan pilihan, aku hanya diberi pilihan untuk mengikuti rancangan seseorang. Kini, saat aku mencoba lagi untuk memilih, aku diperhadapkan pada pilihan lain yang mungkin juga pilihannya hanya mengikuti rancangan pribadi yang sama. Aku dan pribadi itu membawa diriku bukan lebih dekat pada mimpi besarku, justru makin jauh dan makin menjauh. Lalu, haruskah kupendam mimpiku dan kubunuh angan-anganku, gejolak dalam hatiku, membentak jeritan-jeritan kepastian dalam jiwaku untuk menggapai mimpi lalu menyerah pada satu-satunya pilihan di hadapanku? Mengikuti rancangan seorang pribadi. Hanya itu... Hanya itu???
Entahlah
Lelah
Kosong
Hampa
Seperti tak punya kekuatan untuk meneruskan perjalanan tapi di sisimu seseorang menarikmu begitu kuat untuk terus berjalan. Dapatkah seseorang itu dipercaya?
Pertanyaan bodoh!
Dapatkah engkau percaya padaKu?
Rasanya ingin sekali percaya, ingin sekali....
Tapi Engkau juga tahu betapa sulitnya menjadi percaya, betapa sulitnya mencari tumpuan saat seisi bumi menggoyahkanku, menarik dengan egois satu-satunya harapanku untuk percaya, menghempaskannya...
Sungguh! Aku ingin sekali percaya... aku tak punya mimpi lain selain ini...
“... tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus  9:24b)

Sunday, 7 June 2015

31 Hari Bersama Kitab Amsal

Waktu seorang teman blogger, tepatnya seorang kakak yang berhasil membuatku jatuh cinta lagi pada dunia tulis menulis, kak Elva Rafael (cek blognya disini http://ubieeva.blogspot.com) mengajakku untuk ikutan proyek #nulisrandom2015 aku dengan senang hati mau ikut serta, sebab dulu pernah ikutan proyek serupa #tantanganmenulis31hari di blog-ku yang satunya lagi (disini http://risdamaris.blogspot.com/search/label/%23TantanganMenulis31Hari). Ini memang bukan perlombaan dan kita tidak akan mendapat hadiah tapi ini tentang berekspresi dan mengaktualisasi diri, mengasah kemampuan dan menekuni hobi, siapa tahu cita-cita besaku menjadi penulis kesampaian suatu saat nanti (aminn...ya Tuhan) 

Sebelum tanggal 01 Juni, udah lupa sih tepatnya tanggal berapa, waktu lagi baca Alkitab di gereja tiba-tiba kepikiran kitab Amsal dan jumlah pasalnya, kalo gak salah jumlah pasalnya 31 dan kebetulan bulan Juni jumlahnya 31 hari, ternyata setelah dicek dugaanku tepat. Jadilah aku berencana membaca kitab Amsal secara teratur bulan Juni ini. Kalau membaca sendiri tentu gak seru dong ya, jadinya aku ajak teman biar saling ingetin. Setelah dipikir dan dipilah siapa orang yang tepat, kujatuhkan pilihan pada kekasih hatiku ^^ Yup. Bersama dia setiap hari kami membaca satu pasal kitab Amsal. Kalau aku lupa, dia yang mengingatkan, kalau dia lupa, aku yang mengingatkan, dan sering juga kami membacanya bersama-sama via telepon pada malam hari lalu mendiskusikan makna bacaan malam itu. Hari ini kami membaca pasal 8. 

Banyak hal bisa dipelajari dari kitab Amsal saat menjalani proyek ini. Di atas semua hal yang dapat dipelajari sebenarnya kami berdua sedang belajar meletakkan dasar yang baik untuk sebuah hubungan: menekuni firman Tuhan dan hidup di sekitar firman itu. Perlahan-lahan membangun sebuah kebiasaan yang baik dan membangun, ntar kalo kitab Amsal selesai bisa dipindah ke kitab-kitab yang lain. Membaca bersama tentu lebih menyenangkan bukan dari pada membaca sendiri? Gak percaya? Silahkan saja dicoba sendiri ^^

Selamat mencoba teman-teman, tak perlu sama pacar, sama teman-teman dan keluarga juga boleh kog
Asal bisa sama-sama saling mengingatkan dan membangun
Selamat membaca dan merenungkan SabdaNya 


Kanelu, 08 Juni 2015
08.05 Wita

Merayakan Kedewasaan

Merayakan kedewasaan...
Itu seperti sebuah pesta kebebasan
Kebebasan dari penjara kekosongan kalbu
Itu seperti sejuknya embun pagi hari
Dalam dekapan hangat si mentari
Itu seperti wangi khas tanah setelah diguyur hujan
Basah namun menenangkan, pertanda kehidupan

Kamu tahu bagaimana rasanya tersiksa dalam batin kanak-kanak?
Saat kamu tak ingin merintih dan menjerit namun sakit yang kamu rasa mengalahkan perintah dalam otakmu untuk tegar
Kamu mengerang melambai berharap seseorang mengulurkan tangan dan menggapaimu tapi kamu sadar seseorang yang kamu harapkan untuk itu adalah dirimu sendiri

Dari kanak-kanak yang belajar merangkak dalam diam menahan perih
Hingga perlahan-lahan menjumpai kedewasaan
Kedewasaan saat kamu belajar menjadi terbiasa merintih dan menjerit tanpa seseorang di sana untuk menggapaimu
Kedewasaan saat kamu menertawakan masa lalumu
Saat kamu duduk tersenyum dan melipat tangan di dada sambil menatap senyuman baru seseorang di sisimu
Merayakan kedewasaan dan menertawakan air mata kanak-kanak
Menertawakan betapa hidup begitu adil, seseorang dipersiapkan di ujung jalan untuk melangkah bersama pada persimpangan berikutnya
Merayakan kedewasaan...
Kamu tahu rasanya?
Lebih dari indah dan menyenangkan

Saturday, 6 June 2015

Nona Sumba

Nona Sumba...
Hahaha kamu tak dapat memanggilnya nona sumba tanpa berpikir tentang belis
Ya belis... Masa kawin istilah kerennya
 Dan itu bicara tentang kerbau, sapi dan kuda
Mungkin akan ada yang bertanya: kuda? Sapi? Kerbau?
Yup
Di sini jika kamu jatuh cinta dan ingin menikahi nona sumba kamu harus melewati 3 jenis pernikahan: nikah adat, nikah gereja dan nikah pemerintah
Dan yang paling berat adalah nikah adat, mas bro
Kamu harus melewati proses lamaran yang melibatkan berekor-ekor hewan yang harganya jangan ditanya
Jadi tak heran kalo dulu teman-teman di Jawa sering bercanda: "ris, harga kuda sudah turun belum?"
Nona Sumba memang mahal
Lalu apakah kami merasa bahwa harga diri kami ditukar dengan hewan-hewan itu? Oh tidak
Itu justru menggambarkan betapa mahal dan berharganya nona sumba
Di sisi lain, budaya ini justru mengikat sebuah pernikahan tanpa cerai dan melanggengkannya
Dan sebenarnya, saat nikah adat yang ditandai dengan kepindahan si nona sumba ke rumah calon suaminya pun nona sumba membawa segala perlengkapan memasuki rumah mulai dari ruang tamu hingga dapur, itu berarti dari kursi hingga piring sendok
Jadi imbas

Nona sumba, nona sumba
Saya bangga jadi nona sumba
:-)

Friday, 5 June 2015

Seperti Pena di Tangan Pencipta

'Hidup itu bukan soal memilih tapi soal mengikuti' kata seorang teman. 'Kalo kita memilih berarti kita gak sedang mengikuti (Tuhan dan putusanNya)'
Waktu itu aku gak setuju, menurutku hidup itu pilihan, kita yang milih warna apa yang akan kita goreskan untuk cerita hidup kita, kita yang nentuin besok kita akan makan apa, pergi ke mana, sama siapa dan ngapain, prinsip ini juga berlaku untuk urusan besok aku akan menua bersama siapa, dimana dan akan ngapain aja. Semua tentang pilihan. Prinsip ini kupegang beberapa saat lamanya sampai saat aku 'membandingkan' kisah hidupku dengan kisah teman yang menyatakan pendapat di atas. Dia gak milih tapi mengikuti dan kini Tuhan bawa ia melintasi gunung-gunung impiannya dan makin terbang tinggi dalam visi Tuhan serta menemukan bahwa kerinduan-kerinduannya dijadikan nyata oleh Tuhan jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan. Lalu aku lihat hidupku dan kisah sepanjang jalannya, 'oh ya..... Ini konsekuensi memilih jalan hidup' orang lain dengan profesi berbeda dapat dengan mudah menentukan pilihan atas kisah hidupnya, tapi bagi mereka yang menyebut diri 'doulos Tuhan' hak atas kisah hidup dan cerita cintaNya ada pada Tuhan, mereka hanyalah doulus yang harus taat perintah.

Tahun-tahun belakangan ini aku telah belajar bahwa aku pernah menahan pena kisah hidup untuk kutulis kisahku sendiri dan aku dapati kenyataan satu per satu rencana hidupu 'digagalkan' dan disusun ulang oleh Tuhan lalu aku berhenti untuk berserah dan menyerahkan pena itu di tangan Tuhan, silahkan dengan segenap hati, silahkan Tuhan tuliskan kisah hidupku, termasuk di dalamnya: mengapa Tuhan 'memendam' kerinduanku untuk studi lanjut dan mempesonaku dengan 'vicaris', mengapa Tuhan membawaku jauh-jauh ke sumba dan dekat-dekat ke mondo mia dengan perjalanan penggenapan janji "...maka semua akan ditambahkanNya kepadamu..." serta segudang rencana hidup yang aku sendiri gak ngerti akan berakhir kapan dan bagaimana. Tapi aku telah belajar untuk menjadi percaya, percaya, percaya dan percaya, dengan tidak sekali-kali merampas pena kisah hidup itu dari Tuhan, apapun yang akan dilakukannya esok, lusa dan seterusnya, bagian seorang doulos (hamba) memang hanya mengikuti....seperti Eli aku juga akan berkata: "DIA Tuhan, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik" 1 Samuel 3:18b. Tuhan masih memegang kendali.


Mondo Mia, 5 Juni 2015
07.30 Wita

Sunday, 3 May 2015

Mungkin aku menemukan hobi lain

Biasanya aku paling jago nulis kalo lagi galau, kalimat demi kalimat menggetarkan hati mengalir gitu aja kalo sedang patah hati. Banyak inspirasi nulis ketika lagi bad mood. Tapi kini ketika sedang bahagia dan terberkati aku lupa bagaimana harus menulis. Sebelumnya, aku tak pernah kehilangan ide menulis. Tapi kali ini meskipun telah berpikir keras aku masih saja belum menemukan sesuatu untuk dituangkan dalam tulisan. Mungkin aku telah menemukan hobi lain. Waktu sedang galau aku menulis karena menulis adalah teman ngobrol ternyaman, dengan menulis aku menemukan diriku, kekuatanku, motivasi, dan terapi. Kini, saat aku menemukan rekan ngobrol yang nyata, yang membangun, menginspirasi, yang membuatku nyaman dan aku merasa aku sulit menuangkan perasaanku lewat tulisan karena aku dapat berbicara langsung padanya.
Kata orang 'tak kenal maka tak sayang' ah... Aku terjebak dalam 'permainan' ku sendiri dengan bermain-main mengenalmu. Nyatanya aku bahkan tak berhenti ketika sudah cukup mengenalmu, aku malah ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Sesuatu dalam dirimu yang menarik dan tidak dapat kujelaskan dengan cukup baik dalam kata-kata-mengapa. Mungkin aku sedang terpesona... Mungkin aku sedang menjadikanmu pusat dari semua uraian kalimat-kalimat tulisanku. Mungkin kamu sedang mengajariku keindahan lain dari hidup: waktu untuk menikmati masa muda dan cukup waktu untuk jatuh cinta.
Aku hanya tak tahu mengapa aku kehilangan kemampuanku untuk menulis, mungkin kamu bisa menjelaskan alasannya
Aku hanya tahu bahwa inspirasi menulisku hilang karena ditukar dengan sebuah obrolan panjang setiap hari, denganmu. Kurasa kalimat-kalimatku berhenti padamu. Kita mengobrolkan sesuatu obrolan 'tingkat tinggi' meskipun sadar bahwa kita menertawakan diri sendiri karena terlalu yakin akan sesuatu yang bahkan kita sendiri sadar kita belum seyakin itu. 
Kita menertawakan setiap momen diguyur hujan dan untuk setiap pengalaman 'first time' yang unik dan menggelitik orang lain untuk percaya pada apa yang mereka lihat dan kita tertawa karena hanya kita yang tahu kebenarannya.
Terima kasih untukmu, semoga ada banyak lagi momen kejutan 'kali pertama' denganmu. 


Monday, 20 April 2015

Hari Kartini, katanya sih...

Selamat hari Kartini.....
Lupa sih apa makna kartinian zaman sekarang. Katanya sih emansipasi, tapi tetap aja ruang gerak perempuan dibatasi, hak-haknya diambil, tenaga dan waktunya dieksploitasi habis-habisan.
Kadang suka sedih kalo dengar definisi orang-orang mengenai tugas seorang ibu yang hanya mendidik dan merawat anak-anak. Tugas ayah? Oh tentu mencari nafkah. Kalo ibu mencari nafkah itu pasti nafkah tambahan.
Lebih sering lagi ketika sudah menjadi vicaris meliihat begitu banyak kenyataan perempuan ditindas bahkan saya pun hanya mampu 'menonton' dan 'mendengar' tanpa bisa berbuat apa-apa.
Beberapa contoh kasus:

- beberapa waktu yang lalu seorang perempuan muda diperkosa dan dibunuh oleh 6 orang laki-laki. Hak hidupnya dirampas, masa depannya hancur dan orang tuanya yang malang kehilangan anak kebanggaan mereka.

- suatu malam ketika pulang pelayanan saya bertemu dengan seorang ibu muda yang menggendong anaknya yang baru beberapa bulan lahir. Mereka baru saja pulang menghadiri acara pemakaman seorang anggota keluarga di rumah asal si ibu muda itu. Cuaca malam itu sangat dingin dan hujan. Bayi itu menangia berteriak karena kedinginan. Tapi ayahnya tak peduli. Sang ayah memaksa sang istri untuk malam itu juga pulang ke rumah mereka yang jaraknya kurang lebih 12 km dg menggunakan motor yang lampunya mati. Dapatkah kamu membayangkan betapa tega sang ayah kandung pada anaknya sendiri? Kami berusaha mencegah dan memberi usul agar si istri dan anaknya menginap dulu di rumah orang tua si istri dan beru kembali ke rumahnya besok pagi tapi sang ayah ngotot dan berteriak teriak memanggil istrinya. Istri yang tak berdaya itu menurut, sedangkan sang anak berteriak kedinginan. Tak sampai di situ, si istri sempat bercerita bahwa suaminya sering memukulinya. Kemungkinan besar sesampainya di rumah malam itu suaminya akan kembali memukulinya. Ckckckckckc dapatkah kamu membayangkan hidup bersama seorang lelaki brengsek kayak si suami kurang ajar itu?

- kemarin saya bertemu seorang ibu yang memiliki empat orang anak yang harus berjuang sendiri karena ditinggal pergi oleh suaminya. Ia diusir oleh suaminya sendiri dan pulang ke rumah orang tuanya, di rumah orang tuanya pun ia kembali diusir dan sekarang tinggal di kost. Saya tidak tahu bagaimana masa lalunya, bagaimana ia mengenal suaminya dan bagaimana relasi mereka atau apa alasan mereka berpisah. Saya tidak tahu. Tetapi yang saya saksikan kemarin adalah seorang perempuan tangguh yang tidak menyerah pada nasip, yang bangkit berjuang demi anak-anaknya, mengembangkan talenta dagangnya untuk bertahan hidup, punya mimpi bagi masa depan yang cerah untuk anak-anaknya. Saya salut, ternyata dari sekian banyak perempuan yang diperlakukan tidak adil masih ada perempuan sumba yang tangguh, yang tak menyerah pada keadaan.

- kasus yang satu ini adalah kasus yang paling saya benci dan berharap semoga cepat berlalu dalam tradisi orang sumba khususnya wewewa. Tradisi 'padeta minne'. Tradisi mengambil paksa seorang perempuan untuk dijadikan istri. Siapa pun orang berpendidikan yang mendengar tradisi ini pasti tidak akan setuju. Tradisi inilah yang paling banyak menyebabkan adanya disiplin gerejawi atau siasat bagi anggota jemaat atau penggembalaan khusus (tidak diperkenanankan mengikuti perjamuan kudus). Karena masyarakat melegalkan perkawinan tersebut. Bercerita sedikit tentang pernikahan di sumba. Di Sumba dikenal 3 bentuk pernikahan: nikah adat, nikah gereja dan nikah pemerintah. Kebanyakan orang sumba apalagi di desa hanya melaksanakan nikah adat. Tandanya adalah dengan pemberian belis (mas kawin) dan kepindahan perempuan ke rumah laki-laki. Biasanya nikah adat hanya akan terjadi jika si lelaki dan si perempuan sama-sama saling menyukai dan sepakat untuk hidup bersama. Tradisi padeta minne terjadi hanya atas dasar si laki-laki menyukai perempuan sedangkan si perempuan tidak menyukai laki-laki itu. Selain itu orang tua si laki-laki dan si perempuan sudah saling setuju untuk menikahkan anak mereka sekalipun si anak perempuan tidak setuju. Apalagi jika orang tua perempuan sudah menerima belis dari keluarga laki-laki. Kemudian, diaturlah waktu dan tempat dimana si perempuan diambil dengan paksa dan dibawa ke rumah si lelaki. Biasanya si perempuan diambil dengan paksa di pasar atau di jalan. Si perempuan akan diajak ke pasar sementara keluarga lelaki sudah menyiapkan segala sesuatu untuk membawa pergi si perempuan. Biasanya si perempuan akan digendong tiba-tiba oleh segerombol lelaki dan dibawa masuk ke mobil atau tetap digendong dan dibawa ke rumah si lelaki. Orang banyak akan memperhatikan peristiwa itu dan seringkali yang membuat si perempuan tidak dapat kembali ke rumah orang tuanya adalah karena sudah malu diangkut di depan umum dan juga karena malam harinya tentu saja sudah 'ditiduri' oleh 'suaminya'
Sebuah tradisi yang dianggap lazim oleh orang sumba tapi sesungguhnya tradisi ini adalah tradisi yang sama sekali tidak berperikemanusiaan. Bagaimana mungkin seorang perempuan dicabut hak atas dirinya sendiri untuk memilih hidup dengan siapa dan memilih menyerahkan tubuhnya untuk siapa. Dari sanalah muncul potensi-potensi KDRT. Dan perempuan-perempuan sumba 'dipaksa' untuk bertahan seumur hidup karena orang sumba tak mengenal perceraian. Ironis bukan?

Katanya hari ini hari Kartini. Hari untuk merayakan hak hidup perempuan. Hari untuk merayakan kebebasan kaum perempuan. Penyetaraan gender. Tapi masih banya tuh perempuan-perempuan yang hak hidupnya dirampas. Bahkan hak atas tubuhnya sendiri diambil alih oleh orang lain. Dimanakah tempat teraman bagi perempuan?
Ini hanya sekedar refleksi sekaligus tamparan di pipi untuk semua perempuan dan laki-laki Sumba yang kini sedang mengabdi di Sumba. Apa yang dapat kita lakukan? Sebuah penyadaran bagi setiap laki-laki dan perempuan bahwa semua perempuan berhak atas hidupnya sendiri dan berhak mempertahankan tubuhnyakah? Atau kita mengambil bagian dalam 'merampas' hak-hak dan kebebasan perempuan Sumba?
Selamat hari Kartini, katanya sih....


Tuesday, 14 April 2015

‘Single’ rules for the sacred search (2) #PTRB

Tulisan ini merupakan renungan berantai yang ditulis oleh beberapa teman secara bergiliran. Tulisan ini adalah tulisan kedua. Tulisan pertama dapat dibaca di blog kak Elva Rafael disini: http://ruangsenandung.blogspot.com/2015/04/rotesemua-cerita-berawal-dari-sini-1.html 

“Adam sedang sibuk mengerjakan tanggung-jawabnya di eden ketika Tuhan memperhatikan dia dan berpikir "tidak baik jika adam hanya sendirian, Aku akan menyediakan penolong hidup baginya"
jadi, temukanlah eden-mu dulu, kerjakan tanggung-jawabmu di sana dengan segenap hati sebagaimana Tuhan menjadikanmu. tenang-tenanglah, Dia memperhatikan semua kebutuhanmu, termasuk menyediakan sang penolong hidup bagimu"
~kumurkumur

Aku sangat tertarik membaca quote di atas. Kerjakan dulu edenmu Tuhan tahu kebutuhanmu. Seringkali kalimat-kalimat seperti ini hanya manis didengar, keren dihayati tapi sangat sulit diterapkan. Jika kamu masih di awal 20-an ini hal yang mudah, jika gagal kamu masih punya banyak kesempatan untuk mencoba lagi. Tapi jika kamu sedang di akhir 20-an, saat ketakutan mengenai menikah atau tidak menjadi perhatian utamamu, saat kamu ingin buktiin ke semua orang yang bertanya “kapan nikah?” bahwa kamu bukannya gak laku, prinsip ‘Kerjakan dulu edenmu Tuhan tahu kebutuhanmu’ menjadi sebuah klise. Jika Dia memang ingin aku menikah bukankah sekarang saat yang tepat (bahkan hampir telat) untuk mempertemukanku pada seseorang?  Jika memang doa yang selama ini kupanjatkan adalah doa tak terjawab, maka biarlah aku memilih jalanku sendiri, memilih siapa saja untuk dijadikan teman hidup.

Ada banyak rahasia dalam hidup ini. Termasuk mengapa Allah tak menjawab doa-doa kita di malam kelam, kerinduan kita yang ditahan Allah, ‘disembunyikan’ sedemikian rupa oleh Allah. Pada tiap orang, alasan Allah berbeda. Bahkan pola yang ada pada seseorang tidak dapat diterapkan pada orang lain. Maksudnya seperti ini: ada yang berdoa sedemikian rupa kepada Tuhan, giat melayani Tuhan dan dianugerahkan kepadanya pasangan hidup seperti doanya, kehadiran pasangan hidupnya tepat pada waktunya. Ada juga yang berdoa sungguh-sungguh, melayani Tuhan sepenuh hati tetapi belum menemukan seseorang yang sepadan yang dengannya ia dapat berbagi kehidupan. Ada yang berawal dari kesalahan masa muda dan berakhir indah menjadi sebuah keluarga kristen yang di dalamnya kasih Kristus dinyatakan. Ada banyak pola. Dan kita tak pernah tahu mana pola yang akan berlaku pada kita. Namun, apapun pola yang akan berlaku bagi kita, kita mengamini bahwa segala sesuatu yang berlaku atas kita ada di bawah kendali Allah.

Bercerita sedikit tentang kehidupan pribadiku. Aku menemukan melalui pengalamanku bahwa kita dapat memegang teguh begitu banyak prinsip mengenai ‘segala persiapan menemukan seseorang sebagai parter-in-life-mu’ di dalam sebuah pencarian yang kudus ketika anda tidak sedang terikat hubungan dengan siapa-siapa atau anda tidak sedang ‘tertarik/jatuh hati’ pada seseorang. Than you changes the rules if you’re in love with someone. Jatuh cinta dapat membuat segala sesuatu mungkin. Jatuh cinta membuat anda sulit membedakan mana akal sehat dan mana perasaan. Mana yang harus ditoleransi dan mana yang tidak. Mana yang seharusnya diperjuangkan dan mana yang sebenarnya tak pantas sama sekali. Benar kata orang, cinta itu buta. Tapi, kita (gadis milik Allah) harus berbeda. Kita tidak harus terlena. Kitalah yang menentukan dan mengendalikan, kepada siapa kita akan mempercayakan harapan, mimpi dan visi hidup kita. Itu sebabnya ketika sedang tertarik/jatuh hati/terpesona pada seseorang atau sebaliknya ketika seseorang meminta kita untuk menjadi ‘seseorang’ baginya dalam hidupnya, kita perlu waktu untuk menyendiri dan bertanya pada Tuhan. We need time to think and to know him/her more. Tujuannya, untuk menguji hati kita dan menguji hati seseorang itu, terutama menguji hati di hadapan Tuhan. Pertama, waktu untuk mengenal karakternya. Apakah kita dapat hidup dan bertahan dengan karakter-karakter yang ada pada dirinya? Apakah kebiasaan-kebiasaannya tidak akan mengganggu kita? Apakah ada karakternya yang bertentangan dengan prinsip hidup yang kita anut? Apakah bersamanya kita semakin menemukan diri kita? Dalam bahasa Garry Thomas, apakah seseorang yang anda pertimbangkan untuk nikahi adalah seseorang mendorong anda semakin mencintai Tuhan atau seseorang yang justru menarik anda tenggelam dalam jurang kebinasaan dengan sepanjang hidup anda berjuang habis-habisan untuk bertahan dan menerima perlakuan tak manusiawi darinya? Kedua, waktu untuk berpikir. Kita perlu menarik diri dari perjumpaan dengan seseorang itu, mengambil waktu khusus bersama Allah untuk menemukan kehendakNya, untuk menyelidiki hati kita, untuk mengukur seberapa dalam ia berkomitmen untuk bersama kita dan kita bersama dia, menguji karakternya, melihat bukti kata-katanya, bertanya pada orang-orang di sekelilingnya dan membuat penilaian objektif tentangnya. Dengan melakukan kedua hal ini, saya justru menemukan beberapa rules for the single ladies dari beberapa jejaring sosial, dari membaca buku, dari sharing dengan beberapa sahabat, dari bertanya pada Tuhan. Rules itu saya tulis dan tempelkan di dinding ruang tamu agar selalu mengingatkan saya dan banyak orang lain tentang prinsip hidup yang harus diingat dan dipegang erat oleh para lajang:

1. Reasons to celebrate your singleness:
Because you trust God’s perfect timing and you know that every moment of the wait is preparing you for the one you’ve been waiting for
Because ‘good enough’ is NOT good enough for you
Because for you, SETTLING is NOT an option
2. Imagine a man so focusing on God that the only reason he look up to see you is because he heard God say: “that’s her”
3. Ladies, of a guy don’t heartedly committed to the Lord, what makes you think that he will be whole heartedly committed to you? Let him give his whole heart to God first before he can give it to you
4. Just because there’s nothing WRONG with them, doesn’t make them the right one for you
5. Blessed is the girl who found a man that WAITS for her and ASKS her from God, and blessed the man who found a girl that love God more than him
6. Don’t be totally WORRIED about every thing that’s going around you. It’s my job. Signed, Jesus.



Nyatanya, rules ini membantuku amat banyak dalam berpikir dan menentukan pilihan. Yang paling penting adalah bukan bagaimana kita menemukan seseorang melainkan apakah kita mampu berkomitmen untuk memegang erat prinsip ini dan menerapkannya dalam setiap pencarian kudus yang kita lakukan? Tidak gampang memang. Sulit. Berat. Tapi prinsip ini yang membedakan setiap wanita Kristus. Kita tidak perlu menurunkan standar, seseorang itulah yang harus berjuang memenuhi standar yang kita tentukan. Jika ia benar-benar komit melakukan sebuah ‘perjalanan’ bersama kita ia akan dengan senang hati hidup dalam prinsip-prinsip ini. Apakah ia mencintai Tuhan lebih dari apapun? Apakah ia berdoa sungguh-sungguh meminta kita dari Tuhan?
Ladies, tulislah rules di atas di dinding kamarmu untuk mengingatkanmu selalu bahwa kita sedang melakukan pencarian pasangan hidup yang kudus tak peduli berapa usia kita. Dan sebagai bahan referensi, saya menyarankan ladies membaca buku Garry Thomas ‘The sacred search’. Temukanlah begitu banyak prinsip hidup di sana dan bertumbuhlah melaluinya.




Mondo Mia, 14 April 2015


NB: tulisan ini akan dilanjutkan oleh saudari Lastriana Ginting

Monday, 13 April 2015

Loko mara

Sedang di tepi sungai, loko mara
Gemericik air yang mengalir syahdu, meneduhkan jiwa
Sejuknya merasuk ke hati dan mendamaikan kalbu
Tenang...
Damai... 
Sepi...
Sesekali kicauan burung terdengar sayup sayup dari kejauhan
Ranting bambu menari nari diterpa angin sungai
Pepohonan yang tumbuh gagah dan anggun dalam jaminan berkelimpahan air kehidupan
Sungguh karya Allah yang mempesona
Hanya ingin berlama lama disini, menikmati semuanya sendiri
Mereguk keindahan alamnya yang kaya
I don't want anybody, just me and this God's amazing creation





Friday, 10 April 2015

My chapter one

Each time when I feel all things disappeared
I'm so glad that You are here
Through the darkest night
You always be my light
And You guide me all the way

Only you can heal broken part in me
By Your love and sensitivity
With You were by my side
Everything will be alright
You help me to see the beautiful things
You gave for me

Nobody loves me like You do
You touch my heart with love so deeply and true
I have been searching for my whole life through
Just to found that Nobody loves me like You do

Sedang jatuh hati sama lirik dan nada lagu ini. Merasa sangat spesial dan dihargai begitu rupa. Nobody loves me like You do, kenyataannya memang tak ada seorang pun mencintaiku sedemikian rupa, sebesar cinta Tuhan padaku. Papa mama pun mencintaiku karena bercermin dari kasih Tuhan pada mereka. Mereka mengorbankan apa saja untukku, itu juga karena mereka melihat pengorbanan Tuhan bagi hidup mereka. Kebaikan, cinta, pengertian, pengorbanan dipelajari dari Tuhan sendiri. Aku sendiri sedang belajar mengasihi, mencintai, berkorban dan menghargai sesama.
Belajar mengingatkan diri sendiri bahwa segala hal dapat kulakukan bersama Tuhan, apa saja. Dapat kulakukan bersama-Nya.

Saturday, 4 April 2015

Terpesonaa

Pernahkah kamu terpesona oleh seseorang begitu rupa?
Aku pernah. Pernah terpesona pada seseorang bahkan pada pertemuan pertama dengannya. Ah tidak. Aku bahkan hanya bertemu dengannya sekali saja tapi terpesona padanya setiap kali aku melihatnya di jejaring sosial. Ya. Jejaring sosial membantuku begitu banyak untuk mengenalnya. Dan setiap hari aku terpesona pada segala sesuatu yang dibuatnya. Sebuah pertemuan yang begitu mengesankan, bukan? Aku hanya bertemu dengannya sekali tetapi terpesona padanya setiap saat mengingatnya. Aku bahkan bukan saja terpesona aku bahkan jatuh cinta hanya dengan mendengarkan gagasan-gagasan tentangnya. Aku tidak cukup mengenalnya namun setiap kali mendengar namanya disebut ada sesuatu dalam darahku yang mengalir cepat, sesuatu mengganggu di dalam detak jantungku, sungguh dia pria yang hebat dan mempesona. Mengagumi dalam diam, itulah yang kulakukan. Aku terpesona dan jatuh hati padanya, sedangkan ia? Ah ia mungkin hanya menganggap aku salah satu teman barunya. Bgeitulah, setiap hari aku jatuh cinta padanya bahkan sering merasa tersiksa bila tak ada kabar tentangnya di jejaring sosial. Setiap hari aku berjuang untuk melupakannya. Namun semakin aku berjuang, aku gagal. Setiap hari aku menahan diri untuk tidak menjadi stalker, tapi justru aku hampir menghafal semua update-an terbaru di seluruh jejaring sosialnya. Lalu aku sadar bahwa dalam hidup ini banyak hal yang kita inginkan tidak terjadi menurut angan kita. Aku bangun dari keterpesonaanku padanya, melanjutkan hidup hingga menjadi terbiasa kembali dengan semua gagasan tentangnya.
Disini, ketika seseorang justru mengungkapkan keterpesonaan dan perasaan jatuh hatinya padaku, aku mengingat pengalamanku. Bagaimana aku jatuh hati pada seseorang di masa lampau pada pertemuan pertama dan terakhirku, lalu seseorang di masa kini pun jatuh hati dan terpesona padaku di dalam cara yang sama. Apa aku juga terpesona pada si masa kini? Ah terlalu terburu-buru, aku bahkan tak mengenalnya. Mungkin perasaanku pada si masa kini adalah gambaran perasaan si masa lalu padaku. Seseorang terpesona pada kita karena hal-hal yang tak dapat dijelaskannya, haruskah kita pun terpesona pada mereka? Tak harus. Kita hanya dapat terpesona jika memang ada sesuatu dalam diri mereka yang mempesona kita. Jadi, untuk si masa kini, buatlah saya terpesona dan melihat padamu :-)

Monday, 23 March 2015

RIP my anakuku

Saya sedang galau
Galau karena sahabat baru saya meninggal tadi pagi
Sudah beberapa hari ini, ia tak mau makan. Minum pun hanya sedikit. Semua makanan enak saya beri tapi semua tak dimakan, daging babi, daging ayam, ikan asin.
Saya meminumkannya obat dan vitamin tapi itu juga tak banyak membantu.
Meski saya sedih karena anjing saya meninggal tapi saya bersyukur pernah menjalin persahabatan dengannya. Ia selalu menunggu di depan pintu pastori, ia penjaga yg setia, senangnya tidur di dudukan kaki motor, selalu berlari-lari menjemput saya jika saya pulang.
Kini tak ada lagi yg menjemput dan menanti saya.
Tapi saya bersyukur karena ia pergi dalam kelimpahan kasih sayang,
Selamat jalan ganteng :-)
Rest in peace


Wednesday, 4 March 2015

Jatuh cinta vs bangun cinta

Jatuh cinta...
Jika kamu adalah seorang remaja, kamu hanya perlu jatuh cinta untuk bisa pacaran dan memulai sebuah relasi. Kalau kamu berdua sudah tak cocok lagi, kamu bisa memutuskan berpisah dan cari pacar baru.
Tapi jika kamu adalah pria/wanita dewasa kamu akan sadar bahwa jatuh cinta bukan modal utama membangun sebuah rumah tangga. Mengapa? Karena kamu gak makan cinta. Karena cinta pesona harus digiring ke kasih dewasa. Karena cinta hanya akan bertahan paling tidak 2 tahun.
Benar kata orang, pada akhirnya kamu akan sadar bahwa cantik/tampannya seseorang bukan modal utama untuk membangun sebuah rumah tangga. Bahwa yang bertanggung jawab dan mapanlah yang kamu cari. Dan bahwa seseorang yang berani berkomitmenlah yang dapat dipertimbangkan sebagai pendamping hidup.
Jatuh cinta...
Ahh... Kamu seharusnya jangan menikah jika kamu sedang jatuh cinta
Tapi jika kamu sudah berhasil bangun cinta, kamu boleh menikah
Jatuh cinta itu tanpa penjelasan, sering tergesa-gesa, gak pake otak kalo mikir tapi perasaan. Selalu menggebu gebu dan menyesal di akhir cerita.
Bangun cinta itu ketika rasa tergila gilamu sama seseorang sudah hilang, saat kamu kembali ke dunia nyata dan menyadari bahwa seseorang yang kamu sayangi itu hanyalah manusia biasa dengan sejuta kelebihan dan kekurangan. Kamu sungguh mengenal dia luar dalam, dan ia mengenal kamu. Kamu merasa bisa hidup dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saat Kamu merasa siap menjalani suka duka hidup bersamanya. Saat kamu merasa dia 'pantas' diperjuangkan. Saat kamu bangga ia menjadi bagian hidupmu. Saat kamu percaya bahwa ia layak dipercaya untuk menjadi orang tua dari anak-anakmu kelak. Ketika kamu seyakin itu akan semua hal ini kamu siap menikah. Disitulah kamu akan membangun cinta, setiap hari. Jatuh bangun, tapi kamu sadar kamu punya seseorang di sisimu :-)

Saturday, 28 February 2015

Happy b'day, Is

Happy birthday to me :-)
Happy 25 years old
Well, suatu usia yang sebenarnya cukup 'menakutkan' bagi saya. Usia serius bagi kebanyakan orang. Mendapati diri sudah cukup dewasa untuk disebut terlalu muda. Usia yang menuntut banyak tanggung jawab. Usia menghadapi berbagai perubahan sosial dalam masyarakat dan perubahan kehidupan bagi beberapa teman dan sahabat. Usia untuk berpikir serius mengenai masa depan: kerja, karier, pasangan hidup, tempat tinggal, dll.
Tapi saya sudah disini hari ini. Saya berusia 25 :-)  Saya bahagia. Bangga. Bersyukur. Banyak kejutan menanti dari Tuhan. Usia menakutkan ini, mungkin akan tetap menakutkan tetapi akan menjadi jauh lebih mudah karena seseorang bersedia menjalaninya bersamamu. Terima kasih untuk penyadaran bahwa saya tak sendiri menghadapi hidup ini, ada sobat setia sepanjang masa. Dan terima kasih untukmu, seseorang yang mengingatkanku hal ini dalam doamu. Terima kasih sudah bersedia menanti waktu doa bersama. Terima kasih untuk kesaksian hidupnya. Terima kasih untuk motivasi pelayanannya. Dan terima kasih telah berdoa bersama saya. Ini awal yang baik yang mengingatkan saya untuk selalu mengawali dengan doa segala sesuatu yang harus saya kerjakan. Terima kasih.

Saturday, 21 February 2015

Malam minggu kelabu

Malam ini saya tidur dalam keletihan amat sangat sementara sebagian besar keluarga sedang terjaga. Betapa tidak bapa be'a (kakak dr bapa) sore tadi mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan tulang kaki kirinya patah. Be'a tidur dalam kesakitan didampingi keluarga besar. Malam minggu paling kelabu, dikejutkan dengan peristiwa sakit. Saya tidak tega melihat be'a kesakitan dan menderita. Saya juga prihatin terhadap nasip anak yang menabrak be'a, ia anak kelas ujian. Saya tiba-tiba merasa kasihann melihat dia. Kehidupan masa depannya terancam, hanya oleh sebuah kesalahan: ngebut di jalanan.
Saya hanya berharap be'a cepat pulih. Bisa berjalan lagi. Bisa rajin ke gereja lagi. Bisa melakukan banyak hal. Semoga esok da perubahan.
Saya hanya terlalu lelah untuk berpikir dan mengetik
Selamat malam

Monday, 16 February 2015

Karena cinta tak butuh penjelasan

Mazmur 30:6b; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai. 
Begitu kata pemazmur untuk menggambarkan perbedaan malam dan siang
Saya menyukai keduanya
Kita gak bisa menolak malam hanya karena siang lebih terang
Kita gak bisa membenci malam haya karena ia penuh rahasia
Bukankah hidup ini penuh misteri?
Malam dan rahasianya memang tak tertebak, karena itulah kita mencintai sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami
Bukankah anda juga jatuh cinta pada sesuatu yang tak utuh anda pahami? Sebab cinta yang matanglah yang melahirkan perasaan saling memahami. Anda mencintai dulu baru saling memahami.
Karena itulah saya menyukai malam. Awal dari semua cinta dan misteri
Oh ya, malam juga berarti pertumbuhan. Semua benih tumbuh pada malam hari.
Tanaman, buah-buahan bahkan cinta. Semua tumbuh pada malam hari, dalam buaian mimpi dan diam. Hening. Penuh rahasia. Dan manusia gak pernah tahu bagaimana rahasia itu bekerja
Siang datang menyingkap sedikit rahasia malam
Siang membuat segalanya menjadi jelas
Saat siang kita mengenal lebih dalam, pemahaman muncul, pengertian datang tak diundang
Semuanya menjadi jelas
Tak perlu pertanyaan: mengapa embun tak pernah lepas dari dedaunan? 
Atau mengapa dedaunan hijau tampak keemasan didekap pancaran mentari? 
Ah kita gak perlu penjelasan, kita tahu alasannya
Seringkali cinta seperti itu
Kita mencinta, lalu kita gak butuh penjelasan karena ketika siang tiba, semuanya menjadi jelas. Bukan suka embun dan pancaran mentari mendekap dedaunan, itu proses alami. Dan cinta adalah satu di antara proses alami itu.

Selamat pagi :-) 

NB: tiba-tiba pengen nulis ketika melihat embun dan cahaya keemasan mentari pagi ini disamping pastori vicaris 

Wednesday, 11 February 2015

Sahabat baru saya

Saya memiliki sahabat baru
Sahabat yang makan sepiring dengan saya, maksudnya gak sepiring beneran
Setiap kali makan saya selalu mengingat dia, sudah makankah dia? Tentu saja belum karena gak ada yang beri ia makan kecuali saya
Sahabat saya itu saya beri nama 'ganteng' 
Nama itu tepatnya diberikan oleh adik bungsu saya
Ia lahir tunggal, imut dan lucu
Pertama kalinya saya memperhatikan bagaimana cara ibunya merawatnya, penuh kasih
Meskipun kalau sudah gede gak diasuh seperti waktu masih bayi
Karena itu, saya membawa dia pergi bersama saya
Ke mana pun saya pergi, ia juga ikut
Berkhotbah di gereja, masuk kamar tidur, dapur bahkan toilet ia juga ikut
Sahabat macam apa itu?
Well, sahabat saya ini seekor anjing
Seekor anjing yang baik dan penurut
Meskipun kadang kadang rewel minta tidur di kamar saya kalau malam padahal di Sumba kan tugas anjing jadi satpam kalo malam hari
Ia anjing akan setia menunggui pintu pastori saat saya lagi gak di pastori
Ia gak akan meninggalkan pastori begitu saja
Ia penjaga yang baik
Tapi juga pemilih makanan, ia hanya makan banyak jika lauknya adalah daging babi, ckckckck
Meski begitu ia adalah sahabat baru saya
Saya gak pernah melihara hewan sebelumnya, namun memelihara si ganteng membangkitkan kasih yang besar dari diri saya untuknya
Anjing memang sahabat yang baik
Kini saya mengerti mengapa anjing disebut-sebut sebagai sahabat manusia
Anjing itu setia dan penurut


Si Ganteng

Monday, 9 February 2015

"Mepersiapkan' kematian

Dalam sepekan ini terlibat langsung dalam 4 keluarga duka. Tiga di antaranya saya pimpin ibadah pemakamannya, dua di antara yang meninggal adalah orang-orang yang pernah saya doa khususkan di rumahnya masing-masing maupun saya syafaatkan di gereja. Saya melihat besarnya pengharapan di mata dua almarhum yang merindukan jamahan Tuhan untuk sembuh, namun akhirnya mereka berpulang juga.
Saya tidak mengerti. Salah satu keluarga justru terlalu banyak bertekun dalam doa, saya melihat bagaimana mereka berdoa dengan air mata dan berlutut memohon belas kasihan Tuhan. Namun Tuhan berkata lain. Mereka kehilangan. Tetapi satu-satunya yang tak hilang adalah kekuatan doa dan luapan cinta kasih yang besar di antara keluarga. Bagi saya, ini mutiara. Mutiara yang sudah lama ada dalam keluarga yang memilih bersinar pada saat kehilangan dan duka mendalam. Saya bersyukur pada Tuhan menjadi bagian dalam keluarga ini.

Seringnya saya ke rumah duka, sesuatu mengganggu saya. Bagaimana rasanya menghadapi kematian? Saya tahu pertanyaan ini tak terjawab. Tapi bagaimana rasanya? Keempat almarhumah yang saya kunjungi adalah orang-orang yang meninggal karena sakit. Mereka beruntung memiliki kesempatan 'mempersiapkan' kematian. Kita? Ah kita tak tahu waktu kita. Kita mungkin tak punya kesempatan untuk 'mempersiapkan' kematian kita. Kita tak pernah tahu.

Pertanyaan ini memaksa kita memikirkan tentang hidup. Bagaimana kita hidup dan melayani Tuhan. 'Mempersiapkan kematian' kita sendiri. Seperti apa kita hidup? Sudah cukup yakinkah kita ke arah mana kita akan pergi setelah kematian? Andai kita tahu bagaimana rasanya menghadapi kematian. Sayangnya, kita tak tahu. Yang kita tahu adalah bagaimana kita akan hidup. Kita memutuskan seperti apa kita akan hidup. Bagaimana denganmu?

we can't explain why the people we love stay in our hearts forever. they just do (r. m. drake)

Sudah cukup lama Disibukkan oleh berbagai kegiatan dan tuntutan Laporan, jurnal. buku-buku bacaan, dan tugas akhir semuanya tak mampu ...