Wednesday, 24 June 2015

Seberapa yakin

Menulis itu ternyata tergantung mood dan fasilitas
Biasanya memang kalo sedang galau aku bisa rajin posting tiap hari
Apalagi kalo sinyal inetnya lancar jaya
Kali ini nulisnya timbul tenggelam, karena mood dan jaringan inet
Tapi kali ini aku rindu menulis
Menulis sambil menunggu waktu dimulainya ibadah syukuran malam persiapan pindah adat seorang jemaat, yang untuk memimpinnya saja aku sudah menanti 1 jam dan kini waktu telah menunjukkan 21.07 wita
Harus sabar menunggu....

Sore tadi aku juga mimpin Pemahaman Alkitab dari Matius 15:21-28
Itu adalah bacaan yang biasa yang sering kubaca dan pokok teologisnya ya itu-itu aja
Tapi sore tadi ada yang berbeda, seperti membaca kisah itu untuk pertama kalinya
Cara Yesus 'mengabaikan' permintaan si ibu (perempuan) yang sedang memperjungkan hidup anak perempuannya (perempuan menolong perempuan) dan tanggapan murid-murid yang ekslusif
Cara Yesus 'menguji' keteguhan hati si ibu
Cara Yesus mengukur 'kesungguhan hati' si ibu dan keyakinan si ibu bahwa meskipun ia bukan bagian dari bangsa Israel, ia juga berhak atas kasih karunia Allah meskipun itu bagian terkecil
Cara Yesus memuji iman si ibu dan cara ibu dan anaknya mengalami mujizat

Jangan-jangan, doa-harapan-pergumulan kita yang tidak segera dijawab Tuhan juga sedang mengikuti pola mujizat si ibu Kanaan ini
Tuhan bukannya tidak mau mengabulkan, Tuhan sengaja tarik ulur
Tuhan pengen lihat sampai mana kita meneguhkan hati, sampai mana kita percaya saat 'diabaikan', sampai mana kita yakin seyakin yakinnya bahwa kita pantas, layak, berhak menerima segala sesuatu yang terbaik dari Tuhan.
Si ibu Kanaan tahu bahwa ia juga berhak menerima kasih karunia Tuhan, karena itu ia memohon, "Tuhan, tolonglah aku"
Pertanyaannya sekarang adalah: 'seberapa yakin kau padaNya?'

Monday, 15 June 2015

Entahlah...

Entah sudah berapa kali aku melemparkan pandangan ke arah pintu
Entah sudah berapa kali juga ku memaksakan otakku untuk berkonsentrasi pada bacaan di depanku
Tapi hampir setiap detik perhatianku terpaku pada keramaian jalan di depan sana tanpa menemukan sosok yang dicari pandangan mataku sejak tadi
"Engkau sengaja membuatnya mencarimu!"
"Jangan sengaja pergi untuk dicari"
"Dasar perempuan, semarah apapun masih juga mengharapkan ditemui"
Entahlah...
Aku hanya tak mengerti mengapa hatiku pedih sekaligus merindukannya
Menangis memang melegakan dan memberi udara sejuk di dalam dada, tapi menangis tak pernah menyelesaikan masalah
Menangis memang mewakili perasaan yang tak dapat dirangkai dalam kata-kata tapi yang tak dapat dipahami dengan baik oleh kaum Adam
Aku marah padanya
Aku perlu waktu sendiri
Tapi aku juga mengharapkannya ada di sini
Aku merindukannya

Detik-detik berikutnya kutemukan pandangan mataku masih terpaku pada jalanan ramai
Tak ada sosok yang kunantikan itu
Tidak ada dia di sana
Mungkinkah ia memang tak pernah datang?
Mungkin aku yang terlalu berharap dicari
Atau mungkinkah ia malah sedang menunggu dicari?
Entahlah...

Tulang atau Hidup

Tak ada salahnya menghargai sesama bahkan itu bagian dari kewajiban
Yang salah adalah kalau kita lebih menghargai orang mati dibanding orang hidup
Ada tradisi dan budaya yang aneh di pulauku ini
Datanglah ke desa-desanya dan lihat di sana banyak bertebaran kuburan yang indah, terbuat dari batu ukir, dilapisi kemarik mengkilap lalu bandingkan dengan rumah tinggal dan toilet pemilik kubur indah itu, ironis
Tempat orang mati diperindah, rumah orang hidup dibuat seadanya
Orang mati dipesta-in, orang hidup ditelantarkan
Tradisi pesta kematian dan pemakaman rata-rata menelan anggaran di atas puluhan juta
Seluruh jerih lelah, keringat, air mata setahun habis sekejap dalam pesta kematian
Kapankah orang hidup menikmati bagiannya?

Hari ini saya pimpin ibadah syukur
Syukur untuk memakamkan tulang belulang dengan membantai 12 ekor babi dan 4 ekor kerbau
Puluhan juta lenyap seketika
Salah siapa?
Bukan karena kurang paham, tapi karena beda orientasi


Jadi, mana lebih penting: tulang si mati atau hidup seseorang?

Wednesday, 10 June 2015

Happy b'day, Bungsuu

Cerewet, hobi tidur, tertawa ngakak, malas makan, hobi jajan, kalo bercerita bisa dari pagi ketemu pagi.
Itulah dia si bungsu yang kurus, gambaran badan saya dulu waktu masih SMA
Sangat cerewet kalo sudah bercerita tapi juga gampang menangis kalo diganggu hahaha
Berubah jadi hobi makan kalo yang masak saya :p
Tapi meski dia cerewet dan paling malas kerja dan belajar, saya sangat mengasihi dia, adik bungsu tersayang
Selamat ulang tahun untukmu Mariati Yuni Wolla Wunga
Kami semua mendoakan yang terbaik untukmu
Semoga semua harapan, doa dan cita-cita Tuhan berkati dan jadikan kenyataan
Amin


Monday, 8 June 2015

Dare to Dream Big

“... decide today that you won’t give up on your dreams dan desires. Keep pressing forward, believing that you are anointed and empowered...”
Bermimpi. Sebuah aktivitas yang murah, gampang, tak merepotkan tapi membutuhkan segala upaya dan melelahkan untuk membuatnya jadi nyata. Semua hal-hal besar yang mengagumkan di sekitar kita berawal dari sebuah mimpi. Misalnya, kita dapat berpindah pulau dalam satu hari dengan menggunakan transportasi udara (pesawat). Hal ini tak akan pernah terjadi jika Wright bersaudara tidak pernah bermimpi untuk terbang dan mewujudkannya dengan ide membuat sesuatu yang dapat membuat manusia dapat terbang. Segala sesuatu berawal dari mimpi.
Memutuskan setiap hari bahwa kita tak pernah menyerah dengan mimpi-mimpi kita kadang-kadang merupakan hal yang sulit jika apa yang kita impikan, jalan menuju mimpi itu, dan keadaan yang kita alami justru membawa kita jauh dari mimpi-mimpi kita. Godaan untuk menyerah dan menerima keadaan sebagai sebuah takdir seringkali mematahkan semangat dan menghentikan langkah, namun ketika melihat teman-teman yang terbang tinggi melintasi gunung-gunung impian dan terbang tinggi menggapai mimpi mereka, aku seperti disentak dan ditarik paksa keluar dari kungkungan ketakutan dan kepasrahan hidup. You must do something! Begitu suara itu menghakimi. Kamu punya potensi, kamu punya kekuatan, kamu punya semua yang dibutuhkan orang lain untuk bermimpi. Apa yang menahanmu? 
Dare to dream big. Setahun yang lalu aku berjuang untuk berani bermimpi besar. Namun, disitulah aku sadar betapa ketakutan bisa menjadi sebuah kekuatan yang menarikmu begitu dalam ke ruang kosong penuh keraguan, kebimbangan dan keputusasaan. Sementara orang lain berjuang untuk bebas dari rasa takut dan berlari menuju mimpi mereka, aku berkutat memberi makan pada rasa takutku setiap hari. Hasilnya? Aku justru ditarik lebih dalam ke jurang keputusasaan dan mempersalahkan diri sendiri. Lalu aku sadar, bermimpi bukan lagi hal yang mudah. 
Dulu aku cuma berpimpi menjadi sarjana dan menjadi pendeta sampai aku menemukan bakatku dalam mengajar dan mencintai dunia akademik serta menggilai studi lanjut. Mimpi besarku dari ketiga hal ini adalah menikmati proses perkuliahan di negeri orang (yang dalam bahasa seorang dosen favoritku: melihat keagungan karya Tuhan di Eropa). Mimpi yang lebih banyak rasa takutnya daripada rasa percaya. Studi lanjut ke luar negeri, mungkinkah? Nyatanya, ada banyak ketakutan dalam hidupku yang berhasil kuatasi, tapi ketakutan yang satu ini, entah sampai kapan dapat kutaklukkan... 
Masih punya angan-angan, masih punya kerinduan, masih punya cinta untuk studi lanjut ke negeri orang (bahkan jika tak memungkinkan cukup di negeri sendiri). Mungkinkah jadi nyata? Kapan? Bagaimana? Siapa? Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab oleh kata dan kepastian, hanya tangisan piluh. Dulu, ketika aku belajar menentukan pilihan, aku hanya diberi pilihan untuk mengikuti rancangan seseorang. Kini, saat aku mencoba lagi untuk memilih, aku diperhadapkan pada pilihan lain yang mungkin juga pilihannya hanya mengikuti rancangan pribadi yang sama. Aku dan pribadi itu membawa diriku bukan lebih dekat pada mimpi besarku, justru makin jauh dan makin menjauh. Lalu, haruskah kupendam mimpiku dan kubunuh angan-anganku, gejolak dalam hatiku, membentak jeritan-jeritan kepastian dalam jiwaku untuk menggapai mimpi lalu menyerah pada satu-satunya pilihan di hadapanku? Mengikuti rancangan seorang pribadi. Hanya itu... Hanya itu???
Entahlah
Lelah
Kosong
Hampa
Seperti tak punya kekuatan untuk meneruskan perjalanan tapi di sisimu seseorang menarikmu begitu kuat untuk terus berjalan. Dapatkah seseorang itu dipercaya?
Pertanyaan bodoh!
Dapatkah engkau percaya padaKu?
Rasanya ingin sekali percaya, ingin sekali....
Tapi Engkau juga tahu betapa sulitnya menjadi percaya, betapa sulitnya mencari tumpuan saat seisi bumi menggoyahkanku, menarik dengan egois satu-satunya harapanku untuk percaya, menghempaskannya...
Sungguh! Aku ingin sekali percaya... aku tak punya mimpi lain selain ini...
“... tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus  9:24b)

Sunday, 7 June 2015

31 Hari Bersama Kitab Amsal

Waktu seorang teman blogger, tepatnya seorang kakak yang berhasil membuatku jatuh cinta lagi pada dunia tulis menulis, kak Elva Rafael (cek blognya disini http://ubieeva.blogspot.com) mengajakku untuk ikutan proyek #nulisrandom2015 aku dengan senang hati mau ikut serta, sebab dulu pernah ikutan proyek serupa #tantanganmenulis31hari di blog-ku yang satunya lagi (disini http://risdamaris.blogspot.com/search/label/%23TantanganMenulis31Hari). Ini memang bukan perlombaan dan kita tidak akan mendapat hadiah tapi ini tentang berekspresi dan mengaktualisasi diri, mengasah kemampuan dan menekuni hobi, siapa tahu cita-cita besaku menjadi penulis kesampaian suatu saat nanti (aminn...ya Tuhan) 

Sebelum tanggal 01 Juni, udah lupa sih tepatnya tanggal berapa, waktu lagi baca Alkitab di gereja tiba-tiba kepikiran kitab Amsal dan jumlah pasalnya, kalo gak salah jumlah pasalnya 31 dan kebetulan bulan Juni jumlahnya 31 hari, ternyata setelah dicek dugaanku tepat. Jadilah aku berencana membaca kitab Amsal secara teratur bulan Juni ini. Kalau membaca sendiri tentu gak seru dong ya, jadinya aku ajak teman biar saling ingetin. Setelah dipikir dan dipilah siapa orang yang tepat, kujatuhkan pilihan pada kekasih hatiku ^^ Yup. Bersama dia setiap hari kami membaca satu pasal kitab Amsal. Kalau aku lupa, dia yang mengingatkan, kalau dia lupa, aku yang mengingatkan, dan sering juga kami membacanya bersama-sama via telepon pada malam hari lalu mendiskusikan makna bacaan malam itu. Hari ini kami membaca pasal 8. 

Banyak hal bisa dipelajari dari kitab Amsal saat menjalani proyek ini. Di atas semua hal yang dapat dipelajari sebenarnya kami berdua sedang belajar meletakkan dasar yang baik untuk sebuah hubungan: menekuni firman Tuhan dan hidup di sekitar firman itu. Perlahan-lahan membangun sebuah kebiasaan yang baik dan membangun, ntar kalo kitab Amsal selesai bisa dipindah ke kitab-kitab yang lain. Membaca bersama tentu lebih menyenangkan bukan dari pada membaca sendiri? Gak percaya? Silahkan saja dicoba sendiri ^^

Selamat mencoba teman-teman, tak perlu sama pacar, sama teman-teman dan keluarga juga boleh kog
Asal bisa sama-sama saling mengingatkan dan membangun
Selamat membaca dan merenungkan SabdaNya 


Kanelu, 08 Juni 2015
08.05 Wita

Merayakan Kedewasaan

Merayakan kedewasaan...
Itu seperti sebuah pesta kebebasan
Kebebasan dari penjara kekosongan kalbu
Itu seperti sejuknya embun pagi hari
Dalam dekapan hangat si mentari
Itu seperti wangi khas tanah setelah diguyur hujan
Basah namun menenangkan, pertanda kehidupan

Kamu tahu bagaimana rasanya tersiksa dalam batin kanak-kanak?
Saat kamu tak ingin merintih dan menjerit namun sakit yang kamu rasa mengalahkan perintah dalam otakmu untuk tegar
Kamu mengerang melambai berharap seseorang mengulurkan tangan dan menggapaimu tapi kamu sadar seseorang yang kamu harapkan untuk itu adalah dirimu sendiri

Dari kanak-kanak yang belajar merangkak dalam diam menahan perih
Hingga perlahan-lahan menjumpai kedewasaan
Kedewasaan saat kamu belajar menjadi terbiasa merintih dan menjerit tanpa seseorang di sana untuk menggapaimu
Kedewasaan saat kamu menertawakan masa lalumu
Saat kamu duduk tersenyum dan melipat tangan di dada sambil menatap senyuman baru seseorang di sisimu
Merayakan kedewasaan dan menertawakan air mata kanak-kanak
Menertawakan betapa hidup begitu adil, seseorang dipersiapkan di ujung jalan untuk melangkah bersama pada persimpangan berikutnya
Merayakan kedewasaan...
Kamu tahu rasanya?
Lebih dari indah dan menyenangkan

Saturday, 6 June 2015

Nona Sumba

Nona Sumba...
Hahaha kamu tak dapat memanggilnya nona sumba tanpa berpikir tentang belis
Ya belis... Masa kawin istilah kerennya
 Dan itu bicara tentang kerbau, sapi dan kuda
Mungkin akan ada yang bertanya: kuda? Sapi? Kerbau?
Yup
Di sini jika kamu jatuh cinta dan ingin menikahi nona sumba kamu harus melewati 3 jenis pernikahan: nikah adat, nikah gereja dan nikah pemerintah
Dan yang paling berat adalah nikah adat, mas bro
Kamu harus melewati proses lamaran yang melibatkan berekor-ekor hewan yang harganya jangan ditanya
Jadi tak heran kalo dulu teman-teman di Jawa sering bercanda: "ris, harga kuda sudah turun belum?"
Nona Sumba memang mahal
Lalu apakah kami merasa bahwa harga diri kami ditukar dengan hewan-hewan itu? Oh tidak
Itu justru menggambarkan betapa mahal dan berharganya nona sumba
Di sisi lain, budaya ini justru mengikat sebuah pernikahan tanpa cerai dan melanggengkannya
Dan sebenarnya, saat nikah adat yang ditandai dengan kepindahan si nona sumba ke rumah calon suaminya pun nona sumba membawa segala perlengkapan memasuki rumah mulai dari ruang tamu hingga dapur, itu berarti dari kursi hingga piring sendok
Jadi imbas

Nona sumba, nona sumba
Saya bangga jadi nona sumba
:-)

Friday, 5 June 2015

Seperti Pena di Tangan Pencipta

'Hidup itu bukan soal memilih tapi soal mengikuti' kata seorang teman. 'Kalo kita memilih berarti kita gak sedang mengikuti (Tuhan dan putusanNya)'
Waktu itu aku gak setuju, menurutku hidup itu pilihan, kita yang milih warna apa yang akan kita goreskan untuk cerita hidup kita, kita yang nentuin besok kita akan makan apa, pergi ke mana, sama siapa dan ngapain, prinsip ini juga berlaku untuk urusan besok aku akan menua bersama siapa, dimana dan akan ngapain aja. Semua tentang pilihan. Prinsip ini kupegang beberapa saat lamanya sampai saat aku 'membandingkan' kisah hidupku dengan kisah teman yang menyatakan pendapat di atas. Dia gak milih tapi mengikuti dan kini Tuhan bawa ia melintasi gunung-gunung impiannya dan makin terbang tinggi dalam visi Tuhan serta menemukan bahwa kerinduan-kerinduannya dijadikan nyata oleh Tuhan jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan. Lalu aku lihat hidupku dan kisah sepanjang jalannya, 'oh ya..... Ini konsekuensi memilih jalan hidup' orang lain dengan profesi berbeda dapat dengan mudah menentukan pilihan atas kisah hidupnya, tapi bagi mereka yang menyebut diri 'doulos Tuhan' hak atas kisah hidup dan cerita cintaNya ada pada Tuhan, mereka hanyalah doulus yang harus taat perintah.

Tahun-tahun belakangan ini aku telah belajar bahwa aku pernah menahan pena kisah hidup untuk kutulis kisahku sendiri dan aku dapati kenyataan satu per satu rencana hidupu 'digagalkan' dan disusun ulang oleh Tuhan lalu aku berhenti untuk berserah dan menyerahkan pena itu di tangan Tuhan, silahkan dengan segenap hati, silahkan Tuhan tuliskan kisah hidupku, termasuk di dalamnya: mengapa Tuhan 'memendam' kerinduanku untuk studi lanjut dan mempesonaku dengan 'vicaris', mengapa Tuhan membawaku jauh-jauh ke sumba dan dekat-dekat ke mondo mia dengan perjalanan penggenapan janji "...maka semua akan ditambahkanNya kepadamu..." serta segudang rencana hidup yang aku sendiri gak ngerti akan berakhir kapan dan bagaimana. Tapi aku telah belajar untuk menjadi percaya, percaya, percaya dan percaya, dengan tidak sekali-kali merampas pena kisah hidup itu dari Tuhan, apapun yang akan dilakukannya esok, lusa dan seterusnya, bagian seorang doulos (hamba) memang hanya mengikuti....seperti Eli aku juga akan berkata: "DIA Tuhan, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik" 1 Samuel 3:18b. Tuhan masih memegang kendali.


Mondo Mia, 5 Juni 2015
07.30 Wita

we can't explain why the people we love stay in our hearts forever. they just do (r. m. drake)

Sudah cukup lama Disibukkan oleh berbagai kegiatan dan tuntutan Laporan, jurnal. buku-buku bacaan, dan tugas akhir semuanya tak mampu ...