'Hidup itu bukan soal memilih tapi soal mengikuti' kata seorang teman. 'Kalo kita memilih berarti kita gak sedang mengikuti (Tuhan dan putusanNya)'
Waktu itu aku gak setuju, menurutku hidup itu pilihan, kita yang milih warna apa yang akan kita goreskan untuk cerita hidup kita, kita yang nentuin besok kita akan makan apa, pergi ke mana, sama siapa dan ngapain, prinsip ini juga berlaku untuk urusan besok aku akan menua bersama siapa, dimana dan akan ngapain aja. Semua tentang pilihan. Prinsip ini kupegang beberapa saat lamanya sampai saat aku 'membandingkan' kisah hidupku dengan kisah teman yang menyatakan pendapat di atas. Dia gak milih tapi mengikuti dan kini Tuhan bawa ia melintasi gunung-gunung impiannya dan makin terbang tinggi dalam visi Tuhan serta menemukan bahwa kerinduan-kerinduannya dijadikan nyata oleh Tuhan jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan. Lalu aku lihat hidupku dan kisah sepanjang jalannya, 'oh ya..... Ini konsekuensi memilih jalan hidup' orang lain dengan profesi berbeda dapat dengan mudah menentukan pilihan atas kisah hidupnya, tapi bagi mereka yang menyebut diri 'doulos Tuhan' hak atas kisah hidup dan cerita cintaNya ada pada Tuhan, mereka hanyalah doulus yang harus taat perintah.
Tahun-tahun belakangan ini aku telah belajar bahwa aku pernah menahan pena kisah hidup untuk kutulis kisahku sendiri dan aku dapati kenyataan satu per satu rencana hidupu 'digagalkan' dan disusun ulang oleh Tuhan lalu aku berhenti untuk berserah dan menyerahkan pena itu di tangan Tuhan, silahkan dengan segenap hati, silahkan Tuhan tuliskan kisah hidupku, termasuk di dalamnya: mengapa Tuhan 'memendam' kerinduanku untuk studi lanjut dan mempesonaku dengan 'vicaris', mengapa Tuhan membawaku jauh-jauh ke sumba dan dekat-dekat ke mondo mia dengan perjalanan penggenapan janji "...maka semua akan ditambahkanNya kepadamu..." serta segudang rencana hidup yang aku sendiri gak ngerti akan berakhir kapan dan bagaimana. Tapi aku telah belajar untuk menjadi percaya, percaya, percaya dan percaya, dengan tidak sekali-kali merampas pena kisah hidup itu dari Tuhan, apapun yang akan dilakukannya esok, lusa dan seterusnya, bagian seorang doulos (hamba) memang hanya mengikuti....seperti Eli aku juga akan berkata: "DIA Tuhan, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik" 1 Samuel 3:18b. Tuhan masih memegang kendali.
Mondo Mia, 5 Juni 2015
07.30 Wita
No comments:
Post a Comment