Saturday, 28 February 2015

Happy b'day, Is

Happy birthday to me :-)
Happy 25 years old
Well, suatu usia yang sebenarnya cukup 'menakutkan' bagi saya. Usia serius bagi kebanyakan orang. Mendapati diri sudah cukup dewasa untuk disebut terlalu muda. Usia yang menuntut banyak tanggung jawab. Usia menghadapi berbagai perubahan sosial dalam masyarakat dan perubahan kehidupan bagi beberapa teman dan sahabat. Usia untuk berpikir serius mengenai masa depan: kerja, karier, pasangan hidup, tempat tinggal, dll.
Tapi saya sudah disini hari ini. Saya berusia 25 :-)  Saya bahagia. Bangga. Bersyukur. Banyak kejutan menanti dari Tuhan. Usia menakutkan ini, mungkin akan tetap menakutkan tetapi akan menjadi jauh lebih mudah karena seseorang bersedia menjalaninya bersamamu. Terima kasih untuk penyadaran bahwa saya tak sendiri menghadapi hidup ini, ada sobat setia sepanjang masa. Dan terima kasih untukmu, seseorang yang mengingatkanku hal ini dalam doamu. Terima kasih sudah bersedia menanti waktu doa bersama. Terima kasih untuk kesaksian hidupnya. Terima kasih untuk motivasi pelayanannya. Dan terima kasih telah berdoa bersama saya. Ini awal yang baik yang mengingatkan saya untuk selalu mengawali dengan doa segala sesuatu yang harus saya kerjakan. Terima kasih.

Saturday, 21 February 2015

Malam minggu kelabu

Malam ini saya tidur dalam keletihan amat sangat sementara sebagian besar keluarga sedang terjaga. Betapa tidak bapa be'a (kakak dr bapa) sore tadi mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan tulang kaki kirinya patah. Be'a tidur dalam kesakitan didampingi keluarga besar. Malam minggu paling kelabu, dikejutkan dengan peristiwa sakit. Saya tidak tega melihat be'a kesakitan dan menderita. Saya juga prihatin terhadap nasip anak yang menabrak be'a, ia anak kelas ujian. Saya tiba-tiba merasa kasihann melihat dia. Kehidupan masa depannya terancam, hanya oleh sebuah kesalahan: ngebut di jalanan.
Saya hanya berharap be'a cepat pulih. Bisa berjalan lagi. Bisa rajin ke gereja lagi. Bisa melakukan banyak hal. Semoga esok da perubahan.
Saya hanya terlalu lelah untuk berpikir dan mengetik
Selamat malam

Monday, 16 February 2015

Karena cinta tak butuh penjelasan

Mazmur 30:6b; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai. 
Begitu kata pemazmur untuk menggambarkan perbedaan malam dan siang
Saya menyukai keduanya
Kita gak bisa menolak malam hanya karena siang lebih terang
Kita gak bisa membenci malam haya karena ia penuh rahasia
Bukankah hidup ini penuh misteri?
Malam dan rahasianya memang tak tertebak, karena itulah kita mencintai sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami
Bukankah anda juga jatuh cinta pada sesuatu yang tak utuh anda pahami? Sebab cinta yang matanglah yang melahirkan perasaan saling memahami. Anda mencintai dulu baru saling memahami.
Karena itulah saya menyukai malam. Awal dari semua cinta dan misteri
Oh ya, malam juga berarti pertumbuhan. Semua benih tumbuh pada malam hari.
Tanaman, buah-buahan bahkan cinta. Semua tumbuh pada malam hari, dalam buaian mimpi dan diam. Hening. Penuh rahasia. Dan manusia gak pernah tahu bagaimana rahasia itu bekerja
Siang datang menyingkap sedikit rahasia malam
Siang membuat segalanya menjadi jelas
Saat siang kita mengenal lebih dalam, pemahaman muncul, pengertian datang tak diundang
Semuanya menjadi jelas
Tak perlu pertanyaan: mengapa embun tak pernah lepas dari dedaunan? 
Atau mengapa dedaunan hijau tampak keemasan didekap pancaran mentari? 
Ah kita gak perlu penjelasan, kita tahu alasannya
Seringkali cinta seperti itu
Kita mencinta, lalu kita gak butuh penjelasan karena ketika siang tiba, semuanya menjadi jelas. Bukan suka embun dan pancaran mentari mendekap dedaunan, itu proses alami. Dan cinta adalah satu di antara proses alami itu.

Selamat pagi :-) 

NB: tiba-tiba pengen nulis ketika melihat embun dan cahaya keemasan mentari pagi ini disamping pastori vicaris 

Wednesday, 11 February 2015

Sahabat baru saya

Saya memiliki sahabat baru
Sahabat yang makan sepiring dengan saya, maksudnya gak sepiring beneran
Setiap kali makan saya selalu mengingat dia, sudah makankah dia? Tentu saja belum karena gak ada yang beri ia makan kecuali saya
Sahabat saya itu saya beri nama 'ganteng' 
Nama itu tepatnya diberikan oleh adik bungsu saya
Ia lahir tunggal, imut dan lucu
Pertama kalinya saya memperhatikan bagaimana cara ibunya merawatnya, penuh kasih
Meskipun kalau sudah gede gak diasuh seperti waktu masih bayi
Karena itu, saya membawa dia pergi bersama saya
Ke mana pun saya pergi, ia juga ikut
Berkhotbah di gereja, masuk kamar tidur, dapur bahkan toilet ia juga ikut
Sahabat macam apa itu?
Well, sahabat saya ini seekor anjing
Seekor anjing yang baik dan penurut
Meskipun kadang kadang rewel minta tidur di kamar saya kalau malam padahal di Sumba kan tugas anjing jadi satpam kalo malam hari
Ia anjing akan setia menunggui pintu pastori saat saya lagi gak di pastori
Ia gak akan meninggalkan pastori begitu saja
Ia penjaga yang baik
Tapi juga pemilih makanan, ia hanya makan banyak jika lauknya adalah daging babi, ckckckck
Meski begitu ia adalah sahabat baru saya
Saya gak pernah melihara hewan sebelumnya, namun memelihara si ganteng membangkitkan kasih yang besar dari diri saya untuknya
Anjing memang sahabat yang baik
Kini saya mengerti mengapa anjing disebut-sebut sebagai sahabat manusia
Anjing itu setia dan penurut


Si Ganteng

Monday, 9 February 2015

"Mepersiapkan' kematian

Dalam sepekan ini terlibat langsung dalam 4 keluarga duka. Tiga di antaranya saya pimpin ibadah pemakamannya, dua di antara yang meninggal adalah orang-orang yang pernah saya doa khususkan di rumahnya masing-masing maupun saya syafaatkan di gereja. Saya melihat besarnya pengharapan di mata dua almarhum yang merindukan jamahan Tuhan untuk sembuh, namun akhirnya mereka berpulang juga.
Saya tidak mengerti. Salah satu keluarga justru terlalu banyak bertekun dalam doa, saya melihat bagaimana mereka berdoa dengan air mata dan berlutut memohon belas kasihan Tuhan. Namun Tuhan berkata lain. Mereka kehilangan. Tetapi satu-satunya yang tak hilang adalah kekuatan doa dan luapan cinta kasih yang besar di antara keluarga. Bagi saya, ini mutiara. Mutiara yang sudah lama ada dalam keluarga yang memilih bersinar pada saat kehilangan dan duka mendalam. Saya bersyukur pada Tuhan menjadi bagian dalam keluarga ini.

Seringnya saya ke rumah duka, sesuatu mengganggu saya. Bagaimana rasanya menghadapi kematian? Saya tahu pertanyaan ini tak terjawab. Tapi bagaimana rasanya? Keempat almarhumah yang saya kunjungi adalah orang-orang yang meninggal karena sakit. Mereka beruntung memiliki kesempatan 'mempersiapkan' kematian. Kita? Ah kita tak tahu waktu kita. Kita mungkin tak punya kesempatan untuk 'mempersiapkan' kematian kita. Kita tak pernah tahu.

Pertanyaan ini memaksa kita memikirkan tentang hidup. Bagaimana kita hidup dan melayani Tuhan. 'Mempersiapkan kematian' kita sendiri. Seperti apa kita hidup? Sudah cukup yakinkah kita ke arah mana kita akan pergi setelah kematian? Andai kita tahu bagaimana rasanya menghadapi kematian. Sayangnya, kita tak tahu. Yang kita tahu adalah bagaimana kita akan hidup. Kita memutuskan seperti apa kita akan hidup. Bagaimana denganmu?

we can't explain why the people we love stay in our hearts forever. they just do (r. m. drake)

Sudah cukup lama Disibukkan oleh berbagai kegiatan dan tuntutan Laporan, jurnal. buku-buku bacaan, dan tugas akhir semuanya tak mampu ...