Pernah membaca atau memiliki pengalaman seperti gambar di samping?
Jika pernah, bersyukurlah. Kita berteman!
Jatuh cinta itu mudah, gampang, gak ribet. Suka ya suka aja. Semua terasa begitu indah dan sempurna, segala kekurangan dan ketidakcocokan dengan begitu mudah disesuaikan dan dikompromi. Hidup terasa sangat indah. Kita tertegun karena kita dan pasangan ternyata bisa sekompak ini. Lalu minggu demi minggu pun berlalu, bulan dan tahun silih berganti, kita bertanya: mengapa ada begitu banyak perbedaan? Kemana perginya semua kecocokan selama ini? Ternyata seiring waktu kita lelah berkomptomi terus, karakter asli kita dan pasangan pun muncul, ego kita mendominasi. Dan kita sadari hal ini: kita sungguh berbeda. Kita heran bagaimana banyak pernikahan dapat melewati situasi ini, bagaimana papa mama kita melewatinya, bagaimana opa oma kita dapat bertahan.
Adalah baik bagi kita dalam masa-masa pengenalan untuk memunculkan karakter asli dan ego kita dan pasangan. Menjadi jujur pada perasaan di dalam diri kita, jujur pada apa yang kita mau dan apa yang tidak. Lalu menjembatani karakter pasangan, dapatkah saya hidup bersama pribadi dengan karakter ini? Dapatkah saya bertahan seumur hidup saya dengan penerimaan pada pilihan dan gaya hidup pasangan saya? Dapatkah dia juga menerima seluruh keberadaan hidup kita secara utuh?
Sesungguhnya ini pekerjaan yang teramat sulit dan butuh perjuangan berat tanpa kata menyerah dan putus asa, hanya bertahan untuk terus belajar dan mencinta. Entah bagaimana hal ini bekerja pada orang lain tapi bagi saya pribadi ini hal yang sukar. Mengapa? Karena saya berjuang keras memahami diri saya sendiri di hadapan pasangan saya. Saya bercermin di dalam dirinya. Dan untuk itu saya harus berjuang untuk tidak menyerah terhadap kejutan-kejutan yang saya temui dalam karakter, kebiasaan, dan ego yang dengan jujur ditampilkan pasangan saya. Kadang saya marah dan tergoda ingin menyerah namun balik lagi, dalam proses ini tak ada kata menyerah dan berputus asa. Hati saya harus siap dihancurkan, disembuhkan, diremukkan, dibalut kembali. Proses ini menantang sekaligus berharga. Sebuah proses yang mengingiri langkah setiap mereka yang sedang belajar berkomitmen. Saya bersyukur mengalaminya
Menulis hal ini, adalah cara saya untuk berjuang dan bertahan. Tulisan ini akan selalu mengingatkan untuk terus berjuang bagi pasangan yang kita cintai. Menambah ruang kesabaran dalam hati, menambahkan cinta kasih dan reminder untuk tidak pernah mengorbankan sebuah hubungan hanya karena ketidakmampuan kita untuk saling mengenal dan memahami.
Salam
EDWW


No comments:
Post a Comment