“... decide today that you won’t give up on your dreams dan desires. Keep pressing forward, believing that you are anointed and empowered...”
Bermimpi. Sebuah aktivitas yang murah, gampang, tak merepotkan tapi membutuhkan segala upaya dan melelahkan untuk membuatnya jadi nyata. Semua hal-hal besar yang mengagumkan di sekitar kita berawal dari sebuah mimpi. Misalnya, kita dapat berpindah pulau dalam satu hari dengan menggunakan transportasi udara (pesawat). Hal ini tak akan pernah terjadi jika Wright bersaudara tidak pernah bermimpi untuk terbang dan mewujudkannya dengan ide membuat sesuatu yang dapat membuat manusia dapat terbang. Segala sesuatu berawal dari mimpi.
Memutuskan setiap hari bahwa kita tak pernah menyerah dengan mimpi-mimpi kita kadang-kadang merupakan hal yang sulit jika apa yang kita impikan, jalan menuju mimpi itu, dan keadaan yang kita alami justru membawa kita jauh dari mimpi-mimpi kita. Godaan untuk menyerah dan menerima keadaan sebagai sebuah takdir seringkali mematahkan semangat dan menghentikan langkah, namun ketika melihat teman-teman yang terbang tinggi melintasi gunung-gunung impian dan terbang tinggi menggapai mimpi mereka, aku seperti disentak dan ditarik paksa keluar dari kungkungan ketakutan dan kepasrahan hidup. You must do something! Begitu suara itu menghakimi. Kamu punya potensi, kamu punya kekuatan, kamu punya semua yang dibutuhkan orang lain untuk bermimpi. Apa yang menahanmu?
Dare to dream big. Setahun yang lalu aku berjuang untuk berani bermimpi besar. Namun, disitulah aku sadar betapa ketakutan bisa menjadi sebuah kekuatan yang menarikmu begitu dalam ke ruang kosong penuh keraguan, kebimbangan dan keputusasaan. Sementara orang lain berjuang untuk bebas dari rasa takut dan berlari menuju mimpi mereka, aku berkutat memberi makan pada rasa takutku setiap hari. Hasilnya? Aku justru ditarik lebih dalam ke jurang keputusasaan dan mempersalahkan diri sendiri. Lalu aku sadar, bermimpi bukan lagi hal yang mudah.
Dulu aku cuma berpimpi menjadi sarjana dan menjadi pendeta sampai aku menemukan bakatku dalam mengajar dan mencintai dunia akademik serta menggilai studi lanjut. Mimpi besarku dari ketiga hal ini adalah menikmati proses perkuliahan di negeri orang (yang dalam bahasa seorang dosen favoritku: melihat keagungan karya Tuhan di Eropa). Mimpi yang lebih banyak rasa takutnya daripada rasa percaya. Studi lanjut ke luar negeri, mungkinkah? Nyatanya, ada banyak ketakutan dalam hidupku yang berhasil kuatasi, tapi ketakutan yang satu ini, entah sampai kapan dapat kutaklukkan...
Masih punya angan-angan, masih punya kerinduan, masih punya cinta untuk studi lanjut ke negeri orang (bahkan jika tak memungkinkan cukup di negeri sendiri). Mungkinkah jadi nyata? Kapan? Bagaimana? Siapa? Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab oleh kata dan kepastian, hanya tangisan piluh. Dulu, ketika aku belajar menentukan pilihan, aku hanya diberi pilihan untuk mengikuti rancangan seseorang. Kini, saat aku mencoba lagi untuk memilih, aku diperhadapkan pada pilihan lain yang mungkin juga pilihannya hanya mengikuti rancangan pribadi yang sama. Aku dan pribadi itu membawa diriku bukan lebih dekat pada mimpi besarku, justru makin jauh dan makin menjauh. Lalu, haruskah kupendam mimpiku dan kubunuh angan-anganku, gejolak dalam hatiku, membentak jeritan-jeritan kepastian dalam jiwaku untuk menggapai mimpi lalu menyerah pada satu-satunya pilihan di hadapanku? Mengikuti rancangan seorang pribadi. Hanya itu... Hanya itu???
EntahlahLelah
Kosong
Hampa
Seperti tak punya kekuatan untuk meneruskan perjalanan tapi di sisimu seseorang menarikmu begitu kuat untuk terus berjalan. Dapatkah seseorang itu dipercaya?
Pertanyaan bodoh!
Dapatkah engkau percaya padaKu?
Rasanya ingin sekali percaya, ingin sekali....
Tapi Engkau juga tahu betapa sulitnya menjadi percaya, betapa sulitnya mencari tumpuan saat seisi bumi menggoyahkanku, menarik dengan egois satu-satunya harapanku untuk percaya, menghempaskannya...
Sungguh! Aku ingin sekali percaya... aku tak punya mimpi lain selain ini...
“... tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:24b)
mimpi itu gratis..bermimpilah dan bangunlah untuk menjadikannnya nyata...:)
ReplyDeletetetap semangat ris..sprti kata Pengkhotbah pasal 3:1 untuk segala sesuatu ada masanya untuk apapun di bawah langit, ada waktunya...:)
Ingin lagi bermimpi hebat sprti dulu, tpi kehebatan itu hrus dimurnikan di tempat ini.kiranya BAPA pencipta mimpi tepat utk hidup ini menegaskan mimpi kita yg sedang kita tangkai di ladang kita saat ini n terimakasih ka ris syg
ReplyDelete